India Tahan 140 Orang dalam Bentrok Antaragama

India Tahan 140 Orang dalam Bentrok Antaragama

Perdana Menteri India Narendra Modi berpidato di Madison Square Garden, New York, dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, Minggu (28/9). (Foto: Reuters/Lucas Jackson)

New Delhi - Sebanyak 140 orang ditahan menyusul dua lelaki ditusuk dalam bentrok antar kelompok Hindu dan Muslim sehingga menyebabkan puluhan orang tterluka di barat India, Senin (29/9/2014). Kejadian ini dipicu oleh sebuah gambar yang diunggah di Facebook, yang oleh kelompok Muslim dinilai menyerang Islam, kata pejabat administrasi senior di kota itu.

Tragedi berdarah di Gujarat itu bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Amerika Serikat, dan dijadwalkan bertemu Presiden Barack Obama dalam kunjungan yang menekankan potensi ekonomi India.


Pemerintah Gujarat mengerahkan polisi anti huru-hara untuk mengendalikan bentrokan di Kota Vadodara sepanjang akhir pekan ini dan meminta tokoh agama untuk campur tangan mengendalikan situasi.

Penggunaan internet lewat telepon seluler dan pengiriman pesan singkat diputus selama empat hari sebagai langkah berjaga-jaga.

"Kami menahan 140 orang pada Minggu malam setelah dua lelaki ditusuk," kata komisioner polisi E Radhakrishnan, seperti dilansir Reuters.

Penggunaan internet lewat telepon seluler dan pengiriman pesan singkat diputus selama empat hari sebagai langkah berjaga-jaga.

"Korban luka masih dirawat dan mereka yang ditahan masih diinterogasi," kata petugas pengamanan. 

India memilik sejarah hitam kekerasan berlatar belakang agama, terutama antara mayoritas Hindu dengan Muslim yang berjumlah 150 juta dan meletakkan India sebagai negara Islam terbesar ketiga dunia. 

PM India Narendra  Modi ikut pemilu 2014 dari Kota Vadodara namun kalah suara di Kota Varanasi, kota suci Hindu di utara India, dimana ia juga menjadi kontestan.

Setidaknya 1000 orang, sebagian besar Muslim, tewas saat kerusuhan selama sebulan di Gujarat pada 2002. Para kritikus mengatakan Modi tidak banyak bertindak untuk menghentikan kekerasan. Pengadilan tidak memiliki cukup bukti untuk mendukung hal tersebut.(Ode)**
.

Categories:Internasional,