Kualitas Layanan Gawat Darurat Ibu-Anak Ditingkatkan

Kualitas Layanan Gawat Darurat Ibu-Anak Ditingkatkan

Ilustrasi.(Foto:Net)

Bandung - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat meningkatkan kualitas pelayanan gawat darurat "maternal" dan "neonatal" untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di provinsi itu yang masih termasuk tinggi.
 
"Peningkatan layanan kedauratan persalinan dilakukan mulai daru hulu dengan membangun kesadaran pasien, kesigapan layanan primer hingga layanan gawat darurat maternal dan neonatal serta mengoptimalkan sistem rujukan yang berkualitas dan berkeadilan," kata Kepala Dinas Kesehatan Jabar Dr Alma Luchyati pada diskusi kesehatan di Bandung, Selasa (27/1/2015).
 
Ia menyebutkan, kematian ibu dan bayi pascapersalinan bukan hal biasa namun harus dilakukan upaya-upaya agar tidak menjadi sebuah fenomena biasa.
 
Ia menyebutkan penyebab kematian tersebut pada ibu sebagian besar diakibatkan oleh prekelamsi berat atau reklamsi, pendarahan dan infeksi. Sedangkan pada bayi baru lahir disebabkan karena asphixia, b erat badan lahir rendah dan sepsis.
 
"Penyeyab kematian langsung tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan tindakan yang tepat sejak awal baik saat penapisan melalui pemeriksaan kehamilan penanganan risiko tinggi dan persalinan oleh tenaga terlatih dan dukunga fasilitas kesehatan," katanya.
 
Ia menyebutkan, angka kematian bayi di Jabar mengalami penurunan signifikan dari 4.432 bayi pada 2012 menjadi 4,306 pada 2014. Sedangkan kematian ibu penurunannya masih landai yakni ari 781 kasus pada 2013 menjadi 655 kasus pada 2014.
 
Masih tingginya angka kematian ibu dan bayi itu, mengakibatkan Indek Pembangunan Manuia (IPM) Jabar pada 2013 masih di angka 73,40 (Puslitbang Jabar 2014).
 
Kondisi itu masih cukup jauh dari target IPM Jabar yang seharusnya dicapai 80 pada tahun 2015.
 
Koordinator Program Emas-Usaid dr Djoko Soetikno menyebutkan, masih belum naiknya IPM Jabar dari angka 73.40 itu salah satu komponenya dalam perhitungan iatu adalah angka harapan hidup (AHH) yang masih dipengaruhi oleh angka kematian, salah atunya angka kematian ibu dan angka kematian bayi.
 
"Jumlah kematian ibu karena kehamilan, persalinan dan nifas di Jabar masih tercatat tinggi, juga kematian bayi. Dan itu salah satu point yang membuat IPM Jabar masih jauh dari 80," kata Djoko.
 
Pemprov Jabar melalui Dinkes Jabar dan pendampingan program Expanding Maternal Neonatal Survival (EMAS) - USAID melakukan pengembangan model penyelamtan ibu dan anak baru lahir di lima daerah yakni Kabupaten BAndung, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Indramayu.
 
Program itu memperkuat kualitas layanan gawat darurat maternal dan neonatal, penguatan sistem rujukan yang berkualitas serta upaya pemberdauaan masyarakat melalui keterlibatan warga dan LSM.
 
"Model itu hanya sebagian kecil saja dari upaya gawat darurat penyelamatan ibu dan bayi, banyak yang perlu diupayakan untuk optimalisasi penyelamatan ibu dan bayi, dan harus didukung semua pihak termasuk dukungan regulasi dari pemerintah," kata Djoko Soetikno menambahkan. (AY)
.

Categories:Bandung,
Tags:kesehatan,