Peneliti Belanda Tertarik Atasi Permasalahan Sungai Citarum

Peneliti Belanda Tertarik Atasi Permasalahan Sungai Citarum

Ilustrasi Foto.(Foto:Net)

Bandung - Peneliti dari Belanda dan Tanzania, Afrika, tertarik untuk melakukan kerjasama penelitian dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat untuk mengatasi permasalahan di Sungai Citarum.

"Alasan kami tertarik dengan permasalahan Sungai Citarum karena bukan hanya sampah dan banjir, tetapi menyangkut dengan orang di sekitarnya," kata Peneliti dari Director Institute for Science Innovation and Society Radboud University, Prof dr AJM Smith, di Bandung, Rabu (28/1/2015).

Ditemui usai melakukan kunjungan ke Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar, di Gedung Sate Bandung, permasalahan Sungai Citarum erat kaitannya dengan masalah pendidikan, khususnya kepedulian terhadap lingkungan.

"Maksudnya orang-orang supaya minimal dia tidak buang sampah ke sana. Pemberdayaan masyarakat terhadap pelestarian lingkungan sangat diperlukan dalam hal ini," kata dia.

Selain itu, lanjut Smith, mengatasi permasalahan Sungai Citarum juga harus melibatkan semua pihak baik itu pemerintah, masyarakat, ahli lingkungan dan LSM.

Ketika ditanyakan ditanyakan apa alasan lain yang membuat dirinya sangat tertarik meneliti Sungai Citarum, ia menuturkan meneliti sungai terpanjang di Jawa Barat tersebut merupakan sebuah tantangan tersendiri.

"Dan kita kalau lihat berita internasional, seperti melansir dari BBC, diketahui bahwa Citarum merupakan sungai terkotor atau terpolusi di dunia," kata dia.

Lebih lanjut ia mengatakan, sebelumnya pihaknya juga telah melakukan penelitian yang sama di Jerman dan Tanzania.

Sementara itu, Ketua Prodi Master dan Doktoral Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Dwina Rosmini yang mendampingi kunjungan peneliti tersebut ke Pemprov Jabar menambahkan pada dasarnya kerjasama penelitian tentang Sungai Citarum sendiri sudah sering dilakukan.

"Terutama dengan peneliti dari ITB yang sudah dilakukan sekitar 4 tahun lamanya. Banyak kerjasama yang bisa dilakukan. Bisa pertukaran teknologi, bertukar informasi. Yang jelas kita berpikir untuk menyelesaikan bersama," kata Dwina.

Ia menjelaskan, kerjasama penelitian yang diminati para peneliti Belanda dan Tanzania itu akan fokus pada beberapa hal dan akan lebih berfokus pada keberlangsung lingkungan hidup memperbaiki kualitas air.

"Kita punya penelitian jadi kerja sama antara Indonesia dan Belanda. Jadi, semua orang harus memiliki perencanaan, tak hanya dari sisi kontruksi yang diperbaiki, tapi bagaimana agar membuat semua masyarakat sadar, kesadaran sosialnya yang harus dibangun agar tidak merusak lingkungan," katanya. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:budaya,