Bandung akan Sihir Pemimpin Asia Afrika

Bandung akan Sihir Pemimpin Asia Afrika

Ilustrasi Foto(Net)

Bandung - Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat, sedang mempersiapkan diri untuk menyambut peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60, yang dijadwalkan pelaksanaannya dipusatkan di Gedung Merdeka, April 2015.
 
Peringatan KAA ke-60, berbeda dibandingkan sebelumnya karena tersiar kabar bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un akan hadir, bersama 109 kepala negara, 25 wakil organisasi internasional dan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon.
 
Wali Kota Bandung M Ridwan Kamil menyatakan kesiapan kotanya untuk menjadi tuan rumah acara puncak Peringatan KAA pada 24 April 2015.
 
"Insya Allah, Bandung siap. Karena ini perhelatan lima tahun sekali, pada zaman saya (menjadi wali kota) akan saya buktikan Bandung 'keren'," kata Ridwan Kamil (Emil).
 
Berbagai upaya dilakukan oleh pihaknya untuk menyukseskan acara tersebut seperti persiapan infrastruktur, acara dan keamanan di Bandung tengah disiapkan secara maksimal mengingat waktu pelaksanaan acara besar tersebut tinggal dua setengah bulan lagi.
 
Emil juga mengajak seluruh warga Bandung untuk berpartisipasi memeriahkan puncak peringatan KAA ke-60.
 
"Saya telah meminta warga Kota Bandung di tingkat RT dan RW untuk bersuka cita memeriahkan peringatan KAA. Ya, minimal di setiap RT atau RW ada dekorasi yang berkaitan dengan peringatan ini," kata dia.
 
Selain itu, lanjut dia, akan ditampilkan berbagai jenis kesenian dan kebudayaan, serta pada festival akan ditampilkan kostum yang unik-unik karya warga Bandung.
 
Dalam acara puncak KAA ke-60, dijadwalkan 109 kepala negara yang diundang akan melakukan napak tilas KAA 1955 dengan berjalan kaki dari Hotel Savoy Homan ke Gedung Merdeka lalu ke alun-alun Kota Bandung.
 
"Untuk mengatur itu tidak mudah, ya. Apalagi pemimpin Korut juga mau (bersedia) datang katanya. Jadi, perhatian dunia akan ke Bandung semua," kata Kang Emil, sapaan akrab untuk Ridwan Kamil.
 
Persiapan menyambut puncak Peringatan KAA Ke-60 juga dilakukan oleh Pemprov Jawa Barat dengan menggelar pertemuan bersama Sekjen Kementerian Luar Negeri, Y Kristiarto S Legowo, di Gedung Sate bandung, Selasa (27/01).
 
"Bersyukur sekali, berterima kasih sekali tadi Pak Wagub (Deddy Mizwar) telah memberikan konfirmasi mengenai kesiapan Pemprov Jabar untuk mendukung peringatan KAA ke-60 yang insya Allah akan kita undang 109 kepala negara, 25 wakil organisasi internasional, diharapkan juga Sekjen PBB bisa hadir," kata Sekjen Kemlu Y Kristiarto S.
 
Wakil Gubernur Jawa Barat menyatakan berdasarkan koordinasi bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Pemkot Bandung akan menjadi penyelenggara utama acara peringatan KAA ke-60 atau Asia-Africa Festival nanti. Walau begitu Jabar akan bersiap mendukung dan menyambut kedatangan para tamu negara tersebut.
 
"Kemarin koordinasi di Istana, Pak Emil (Wali Kota Bandung) sudah siap untuk bikin keramaian. Dan saya kira tidak menginap disini, hanya napak tilas di sini. Jadi bagaimana kita menyambut kedatangan tamu saja sifatnya," kata Deddy Mizwar.
 
Pihaknya berharap, perayaaan KAA yang usianya lebih dari setengah abad bukan hanya sebatas peringatan, namun menjadi momentum bagi generasi muda untuk mengisikan semangatnya dalam kehidupan.
 
Dalam pertemuan antara Pemprov Jawa Barat dan Sekjen Kemenlu juga dibahas tentang desain pemanfaatan Museum Konferensi Asia Afrika untuk ke depannya.
 
Deklarasi Baru Di tengah persiapan Kota Bandung menyambut puncak Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60, sejarawan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Nina Lubis berharap Indonesia selaku tuan rumah bisa menghasilkan sebuah deklarasi baru yang lebih aktual atau terkait dengan isu kekinian yang sedang dihadapi oleh dunia.
 
"Jadi, peringatan KAA yang ke-60 nanti ibaratnya bukan sebatas nostalgia. Barangkali nanti harus dihasilkan deklarasi global dari peringatan tersebut. Apabila dilihat dari segi sejarah memang tidak bisa dibantahkan lagi bahwa KAA yang diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India dan Pakistan pada tanggal 18 hingga 24 April 1955 di Gedung Merdeka Bandung telah memberikan pengaruh besar bagi negara-negara di Asia Afrika," kata Nina.
 
Ia mengatakan, konferensi yang awalnya bertujuan untuk mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, dan Uni Soviet, diharapkan mampu menjadi solusi bagi persoalan kekinian yang dihadapi oleh semua bangsa seperti kemiskinan dan stigma terorisme pada negara-negara tertentu.
 
Mengenai masalah terorisme, kata dia, peringatan KAA ke-60 bisa menjadi ajang bagi Indonesia dan negara lainnya Asia Afrika lainnya untuk menjelaskan konsep keadilan tentang stigma terorisme.
 
"Negara-negara barat, mohon maaf sekali bahwa selama ini menilai bahwa terorisme itu milik blok negara tertentu, tapi ketika itu dilakukan oleh mereka, mereka menolak dikatakan teroris. Jadi ini harus adil seperti apa," kata dia.
 
Persoalan kekinian lain yang dihadapi oleh dunia adalah masalah kemiskinan, sehingga ia juga berharap bisa menyodorkan program-program visionernya dalam hal mengatai kemiskinan dan ancamana krisis pangan.
 
Nina sangat berharap penampilan Indonesia di puncak Peringatan KAA ke-60 tersebut bisa dinilai sebagai penampilan yang "outstanding".
 
"Dulu di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno kita jadi pemimpin dunia, kalau sekarang? Silakan simpulkan sendiri. Maka momentum KAA nanti saya harap Indonesia bisa 'outstanding' atau 'menyihir' perwakilan negara-negara yang hadir dengan ide, konsep atau gagasan terkait isu kekinian yang dihadapi dunia," kata dia.
 
Mengenai kabar pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un akan hadir di Peringatan KAA Ke-60, Nina berpendapat tidak perlu dikhawatirkan malah ia menyambut baik kabar tersebut.
 
"Perlu disambut baik, kehadirannya bisa menjadi momentum yang perlu dimanfaatkan, dalam artian ambil yang baik. Tidak perlu dikhawatirkan, tapi kita harus cerdas, sekaligus jika memang nanti datang kita bisa mengenalkan Indonesia kepada yang bersangkutan," kata dia. (AY)
.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,