Sulit, Mengubah Kebiasaan Bahasa Kasar Anak

Sulit, Mengubah Kebiasaan Bahasa Kasar Anak

Para siswa dan siswi kerap menggunakan bahasa kasar dalam interaksi sehari-hari. (Foto : ADE)

Bandung - Meski para siswa sekolah sudah mendapat pelajaran ahlak dan budi pekerti dari mata pelajaran Agama, PKPN, Bahasa, dan Bimbingan Konseling, kebanyakan siswa masih sulit menerapkannya dalam pergaulan sehari-hari. 

Misalnya, dalam bahasa keseharian masih banyak pelajar di Kota Bandung yang belum bisa menghilangkan kata kasar. Seperti  anjing, goblok, sia, dan lain sebagainya.

 

Menyikapi hal itu, guru bidang kesiswaan SMAN 18 Kota Bandung, Herlina mengakui sedikit kesulitan dalam mengubah gaya para siswa dalam berkomunikasi. Siswa kini malah jarang berbicara bahasa Sunda lemes, mereka malah kebanyakan pakai bahasa Sunda kasar.

 

“Anjing siah, teu baleg, itu yang sering saya dengar di lingkungan sekolah, saat anak-anak sedang ngobrol atau main bola,” seru Herlina di Jl. Madesa, Kota Bandung, Kamis (29/01/2015).

 

Namun Herlina tidak menyerah begitu saja, dia sering berkoordinasi dengan guru bahasa dan guru agama, untuk memberikan pelajaran dan pembekalan khusus. Utamanya agar para siswa lebih paham dalam bertindak dan bertutur kata.

 

“Kita sering berkoordinasikan dengan guru Agama, PKPN, BK yang kebetulan bertugas juga di Wakasek Kesiswaan. Barang siapa yang ngomong kasar dia ibaratnya harus mengucapkan kalimat syahadat lagi,” cetus Herlina.

 

Semoga dengan pengarahan yang dibuat Wakasek Kesiswaan SMAN 18 Kota Bandung, ahlak para siswa bisa lebih baik lagi. Bahkan bahasa kesehariannya pun bisa lebih santun dan sopan. (Jr.)**

.

Categories:Pendidikan,
Tags:pendidikan,