Suntikan ke BUMN Naikkan Beban Utang Negara

Suntikan ke BUMN Naikkan Beban Utang Negara

Ilustrasi.(Foto:Net)

Jakarta - Analisis ekonomi politik, Kusfiardi mengaku tidak setuju dengan rencana pemerintah yang ingin menambah Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada perusahaan BUMN, dalam nota keuangan RAPBN-P 2015. 
Pemerintah beralasan, penambahan suntikan modal bertujuan mendukung agenda prioritas nasional seperti meningkatkan kedaulatan pangan, pembangunan infrastruktur dan maritim, mendukung industri kedirgantaraan dan membangun industri pertahanan nasional.

Kusfiardi berpendapat kebijakan ini hanya akan menambah beban utang negara. Suntikan modal untuk BUMN bersumber dari penerbitan surat berharga negara (SBN). Target tambahan itu melalui penerbitan surat utang Negara dalam denominasi Rupiah dan juga valuta asing dengan tambahan net sekitar Rp 31 triliun.

"Pada APBN 2015, alokasi PMN hanya Rp 5,1 triliun. Dalam nota keuangan RAPBN-P 2015 alokasi melonjak sangat drastis menjadi Rp 72,9 triliun. Kebijakan pemerintah yang ambisius ini bukan saja membebani tapi menggerogoti keuangan negara," ucap Kusfiardi di Jakarta, Minggu (1/2).

Ia pun menyayangkan karena pada saat yang sama tidak ada jaminan, alokasi PMN sebesar Rp 72,9 triliun dalam RAPBN-P 2015 bisa mencapai tujuan yang dicanangkan pemerintah. Apalagi audit BPK pernah menemukan, dalam praktiknya oleh BUMN yang menerima alokasi PMN justru menggunakan dana itu untuk membayar utang.

"Khusus untuk penyaluran PMN dalam RAPBN-P 2015 belum disertai dengan dokumen studi kelayakan. Padahal, dokumen itu penting untuk melihat sejauh mana alokasi PMN bisa mencapai tujuan yang dicanangkan pemerintah," tegasnya.

Anggota tim koalisi anti utang itu juga menyarankan, kepada DPR untuk menolak rencana PMN yang berdampak pada meningkatnya beban utang. Selain itu akuntabilitas kebijakan alokasi PMN ini juga rendah sekali.

"Penolakan oleh DPR bisa mencegah dua hal penting. Pertama mencegah bertambahnya utang Negara. Kedua, mencegah penggunaan uang negara yang sama sekali berbeda dengan tujuan peruntukannya," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:ekonomi,