Penumpang Pesawat Capai Rekor 3,3 Miliar

Penumpang Pesawat Capai Rekor 3,3 Miliar

Ilustrasi.(Foto:Net)

Jenewa - Jumlah penumpang pesawat udara pada tahun lalu mencapai rekor 3,3 miliar, menandai lompatan sekitar 170 juta penumpang dari 2013, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengatakan pada Jumat (6/2/2015).


"Permintaan untuk bisnis penumpang bekerja dengan baik pada tahun 2014. Dengan ekspansi permintaan 5,9 persen, industri berkinerja lebih baik dari rata-rata tingkat pertumbuhan 10 tahun terakhir," kata Ketua IATA Tony Tyler dalam sebuah pernyataan.

Lebih dari setengah dari pertumbuhan dalam perjalanan penumpang terjadi pada penerbangan di pasar-pasar negara berkembang, termasuk Asia Pasifik dan Timur Tengah.

Sementara kapasitas penerbangan global naik 5,6 persen, sedangkan rata-rata "load factor" atau persentase kursi yang diduduki, adalah 79,7 persen, sebuah kenaikan 0,2 poin atas 2013.

Meskipun jumlah orang bepergian lewat udara membengkak, Tyler memperingatkan bahwa "ada tanda-tanda dalam beberapa bulan terakhir bahwa pelemahan kepercayaan bisnis sedang diterjemahkan ke dalam penyemarataan permintaan perjalanan internasional." Pertumbuhan keseluruhan terkuat dicatat oleh operator di Timur Tengah sebesar 13 persen, diikuti oleh kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin, masing-masing dengan pertumbuhan 5,8 persen.

Sementara Eropa melihat pasarnya membengkak 5,7 persen, menandai sebuah kenaikan yang jelas dari pertumbuhan 3,8 persen yang terlihat pada 2013.

"Perjalanan kuat pada penerbangan tarif rendah serta penerbangan yang terdaftar di Turki mengimbangi pelemahan ekonomi dan risiko di kawasan ini," jelas IATA.

Amerika Utara melihat kenaikan permintaan 3,1 persen pada 2014, dibandingkan dengan hanya 2,3 persen tahun sebelumnya, dan dengan "load factor" tertinggi dari semua kawasan di 81,7 persen.

Maskapai penerbangan Afrika mengalami pertumbuhan tahunan paling lambat hanya 0,9 persen, setelah naik 5,2 persen pada 2013.

Maskapai di Afrika melihat "load factor" mereka turun 1,5 poin menjadi 67,5 persen, juga yang terendah dari semua kawasan.

IATA mengatakan bahwa kemerosotan tampaknya tidak terkait dengan Ebola, kecuali di Guinea, Sierra Leone dan Liberia, negara-negara pada pusat dari epidemi virus menghancurkan yang telah menewaskan hampir 9.000 orang hanya dalam satu tahun.

Sebaliknya itu tampak dihubungkan dengan "perkembangan ekonomi yang negatif di bagian benua tersebut termasuk Nigeria, yang sangat bergantung pada pendapatan minyak," katanya. (AY)

.

Categories:Ekonomi,