Mencekamnya Aksi Ilmu Kanuragan Guriang Padjadjaran

Mencekamnya Aksi Ilmu Kanuragan Guriang Padjadjaran

Aksi debus warnai kesenian Guriang Padjadjaran (Foto : ADE)

Bandung - Tanah Padjadjaran adalah salah satu daerah yang dahulu dikenal sering melahirkan pendekar sakti, yang kebal terhadap benda-benda tajam dan ahli dalam ilmu-ilmu kanuragan. Untuk mengukuhkan eksistensinya dalam dunia persilatan, tak jarang para jawara mendemonstrasikan kepandaian ilmunya kepada khalayak umum. Guriang Padjadjaran adalah salah satu manifestasi dari tradisi tersebut di masa modern ini, yang rutin menggelar pertunjukan di hadapan masyarakat.

 

Menurut Ketua Group Guriang Padjadjaran, Ki Petir, masing-masing anggota kesenian Guriang Padjadjaran mempunyai keahlian dan bela diri khas sendiri.

 

“Ada yang bisa menaklukkan ular, menaklukkan api, atraksi senjata tajam, bahkan ilmu kekebalan. Mereka semuanya sudah telatih karena sudah mempelajari ilmu ini secara turun menurun,” aku Ki Petir di acara pentas Seni Sunda belum lama ini.

 

Masih kata Ki Petir, untuk mempelajari seni bela diri Guriang Padjadjaran terbilang gampang-gampang susah. “Kita harus punya keyakinan tersendiri dalam diri kita, mengingat mempelajari ilmu ini tidak segampang bela diri lain. Kita harus bersih hati dan mau menjalankan tarekat ilmu kebatinan seperti dengan berpuasa”, cetus Ki Petir.

 

Aksi dari Guriang Padjadjaran biasanya dimulai dari Ki Jangkung yang memang berperawakan tinggi namun kurus. Sekilas tampang dari Ki Jangkung mirip dengan salah satu aktor laga kawakan Berry Prima dan tokoh film pahlawan perang Amerika Rambo.

 

Ki Jangkung mempertunjukkan keahliannya dalam memainkan obor api yang menyala. Tidak mudah memutar dan melempar obor dengan api yang menyala pada ujungnya dengan kecepatan tinggi, itu semua membutuhkan keahlian dan keberanian luar biasa untuk melakukannya. Namun Ki Jangkung memainkannya dengan sangat fasih sambil memainkan beberapa jurus silat miliknya.

 

Hal yang paling membuat kita untuk mengernyitkan dahi adalah pada saat beliau mematikan obor menyala tersebut dengan memasukkan ke dalam mulutnya. Tanpa terlihat kepanasan atau pun kesakitan beliau memberi salam kepada pengunjung sebagai tanda berakhirnya pertunjukkan dirinya.

Aksi Ki Jangkung langsung disusul dengan gerakan silat dari Ki Buyung dan Ki Kebo Kenongo, yang secara tak langsung menyatakan giliran mereka untuk beraksi telah tiba. Ki Buyung memulai aksinya dengan membawa beberapa ekor ular berbisa dalam karung goni. Sesaat kemudian beliau memegang dan mengeluarkan ular-ular berbisa itu, lalu menaruhnya disekujur tubuh tanpa perasaan takut sedikit pun.

Ular-ular yang sebelumnya tampak sangat berbahaya tersebut terlihat seperti mainan anak-anak di tangan Ki Buyung. Setelah mengambil kembali ular-ular tersebut Ki Buyung memasukkannya kembali kedalam karung goni, mengocoknya dan kembali mengambil ular itu. Namun kali ini ia mengambilnya dengan cara memasukkan kepalanya ke dalam karung goni, dan menggigit salah satu ular berbisa dengan giginya.

Anehnya, ular cobra berbisa yang terkenal agresif dan berbahaya itu seperti tak berselera untuk balik menggigit Ki Buyung. Ki Buyung memang memiliki ilmu kanuragan untuk menaklukkan binatang-binatang buas.

Lain halnya dengan dengan Ki Kebo Kenongo yang langsung merespon atraksi Ki Buyung dengan memasukkan ular melalui hidung, dan mengeluarkannya melalui mulut. Atraksi Ki Kebo memang kurang mendapat antusias dari penonton. Namun tetap saja aksi tersebut sangat berbahaya mengingat kemungkinan serangan balik ular tersebut saat di dalam hidung Ki Kebo.

Aksi selanjutnya berasal dari Ki Joro atau yang lebih dikenal dengan sebutan manusia pedang terbang. Berbeda dengan aksi dari para rekan sejawatnya, Ki Joro mempertontonkan aktraksi yang lebih berbau atraksi sirkus. 

Aksinya dalam melempar pedang ke udara, menjaga keseimbangan benda-benda pada ujung pedang, dan melempar target dengan menggunakan pisau sangat mengesankan juga membutuhkan latihan yang intensif tentunya. Bila rekan-rekan sebelumnya menutup atau membuka aksi dengan memperlihatkan jurus-jurus silat, Ki Joro hanya menutup aksinya dengan menari.

 

Aksi Guriang Padjadjaran ditutup oleh Ki Petir dengan aksi debusnya. Bila rekan-rekannya memiliki kesaktian hasil dari latihan dan semedi, lain halnya dengan Ki Petir. Beliau memperoleh kesaktiannya akibat tersambar petir. Sebelumnya ia adalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki ilmu kanuragan, sampai pada saat dirinya tersambar petir di salah satu lapangan di dekat rumahnya.

 

Aksi debus yang ditampilkannya adalah menusuk dirinya dengan jarum panjang, mengasah lalu membacok golok pada tangan dan lehernya, menusuk pipinya dengan besi hingga tembus ke arah pipi yang lain,. Yang paling mengesankan adalah saat beliau berusaha menusuk perutnya dengan golok tajam, yang sebelumnya telah dibuktikan ketajamannya dengan memotong kayu.

 

Golok itu seperti tumpul dan terhalang oleh suatu selaput dimensi lain yang orang awam tidak ketahui, hingga membuat golok tersebut tidak bisa menunjukkan fungsinya sebagai alat pemotong.

Aksi-aksi dari para pendekar sakti bergelar Ki ini memang sangat mustahil dilakukan oleh orang biasa, tanpa berbekal ilmu kanuragan. Atraksi yang telah menjadi tradisi di tanah Padjadjaran ini memang mengerikan dan terkesan sangat ekstrem.

Namun di balik itu semua, tradisi tersebut menyimpan sejarah dan bukti dari keberadaan manusia sakti jaman nenek moyang kita dahulu, yang harus diketahui generasi saat ini bahkan harus kita  lestarikan dan hormati keberadaanya. (Jr.)**

 

.

Categories:Unik,
Tags:unik,