Soal Proton, Jokowi Kian Rendahkan Indonesia

Soal Proton, Jokowi Kian Rendahkan Indonesia

Presiden Joko Widodo melihat prototipe mobil Proton Iriz di Malaysia. (net)

Jakarta - Program Nawa Cita sebagai bahan jualan dalam kampanye saat Pilpres 2014 lalu seharusnya menjadi agenda utama pembangunan bagi Presiden Jokowi saat ini. 

Namun, Jokowi  tampaknya semakin jauh dari apa yang dia kampanyekan , terlebih dia menggandeng Proton untuk membangkitkan mobil nasional.

Menurut  ekonom dari Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa, Serang Dahnil Anzar Simanjuntak, Sabtu (7/2) di awal kemunculan Jokowi di panggung nasional saat menjadi Walikota Solo, dia berkomitmen  mendorong industri otomotif nasional menjadi tuan rumah di negeri sendiri. 
 
Bahkan mampu melakukan ekspansi ke dunia international, dengan menawarkan Mobil Esemka. "Jelas, sekarang semua itu adalah tipu muslihat propoganda dan pencitraan," tegas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini.

Dia mempertanyakan, apa beda Jokowi dengan Tommy Soeharto yang menggandeng pabrikan Asal korea Selatan yakni KIA terkait mobil Timor.  Tak hanya itu, tidak ada alasan strategis bagi kepentingan ekonomi nasional ketika menjadikan Proton sebagai mobil nasional.

Menurutnya, kalau pun toh harus menggandeng pabrikan dari luar negeri, lebih banyak yang lebih bagus dan pantas dibandingkan Proton. Proton sendiri tengah mengalami penurunan pangsa pasar lebih 40 persen di dalam negeri mereka, sehingga berusaha mencari pangsa pasar lebih luas, yakni Indonesia. 

"Terlepas dari argumentasi ekonomi, saya kira ketika Proton digandeng sempurna sudah 'stigma' rendah Malaysia terhadap Indonesia. Seperti dalam kasus iklan sebuah mesin pembersih di Malaysia beberapa waktu yang lalu," demikian Dahnil.
 
Sebelumnya, pemerintah menjalin kerja sama dengan produsen mobil asal Malaysia, Proton. Pabrikan ototmotif negara tetangga itu digandeng Presiden Jokowi,  untuk mengembangkan mobil nasional Indonesia lewat PT Adiperkasa Citra Lestari. 

Nota kesepahaman ditandatangani oleh CEO Proton Datuk Abdul Harith Abdullah yang disaksikan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim, dan CEO PT Adiperkasa Citra Lestari Abdullah Mahmud Hendropriyono disaksikan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Herman Prayitno. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,