Harga Residensial di Kota Bandung Tertinggi

Harga Residensial di Kota Bandung Tertinggi

Ilustrasi Foto.(Foto:Net)

Bandung - Harga properti residensial primer di Kota Bandung tertinggi dibandingkan 20 kota di Indonesia, kata Pemimpin Bank Indonesia Jawa Barat Rosmaya Hadi, Senin (9/2/2015).

Hasil dari survei harga properti residensial yang dilakukan oleh BI menunjukan indeks harga properti residensial pada triwulan IV tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 2,6 persen dibandingkan triwulan III tahun 2014.

"Tingginya harga properti residensial primer atau rumah tinggal didorong meningkatnya permintaan di Kota Bandung. Tertinggi juga dari rata-rata harga properti nasional," kata Rosmaya Hadi.

Ia menyebutkan tingginya harga properti primer di Kota Bandung perlu mendapat perhatian dan dicermati untuk mencegah tingkat kredit bermasalah dari cicilan perumahan itu.

Salah satunya untuk mencegah pembelian properti residensial itu oleh para spekulan yang bisa memicu kenaikan NPl kredit perumahan jenis itu.

"Bila sudah diatas NPl5 persen, bisa jadi pembeli properti hanya para spekulan," katanya.

Namun saat ini menurut Rosmaya NPL properti di Kota Bandung masih belum mencapai batas psikologis tersebut atau masih dibawah lima pesen. Pihaknya terus memantau kondisi properti di Kota Bandung, untuk menghindari munculnya spekulasi.

Sementara itu Asisten Direkur Team Leader Statistik BI Jawa Barat Wahyu Ari Wibowo menyebutkan harga properti di Bandung cukup unik karena hampir sama dengan properti di Jakarta. Bahkan untuk beberapa jenis melebihi harga di ibu kota itu.

"Meski harga jual properti residensial di Bandung tinggi, namun belum ada tanda crash bubble properti. Tingginya harga karena memang permintaan konsumen tinggi," katanya.

Konsumen properti di Kota Bandung tidak hanya dari kawasan Bandung Raya dan Jabar, tapi juga warga ibukota Jakarta.

"Akses jalan ke Jakarta-Bandung saat ini sudah bagus dan bisa ditempuh dalam waktu singkat, selain itu Bandung dikenal sebagai kawasan peristirahatan sehingga membuat daya tarik dibanding membeli di kawasan Bekasi atau Karawang," katanya.

Berbanding terbalik dengan properti residensial, properti komersial seperti perkantoran, kondominium dan pertokoan di Bandung mengalami penurunan.

"Harga dan hunian properti komersial ada perlambatn sehingga huniannya menurun," katanya.

Ia mencontohkan hasil survei BI menyebutkan pada triwulan IV tahun 2014, harga jual kondominium mengalami penurunan sebesar - 0,33 persen.

"Penyebabnya pertumbuhan apartemen ataupun kondominium tinggi," katanya.

Penurunan juga terjadi pada properti komersial juga pada pasar modern dan minimarket. Hal itu tidak lepas dari adanya kebijakan moratorium minimarket, mall dan pasar modern. Hal itu jelas berpengaruh pada properti komersial," kata Wahyu Ari Wibowo menambahkan. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,