Adang, Obsesinya Musik Bamboo Bisa Mendunia

Adang, Obsesinya Musik Bamboo Bisa Mendunia

Adang Muhidin, sang kreator bamboo sekaligus pendiri IBC (Indonesian Bamboo Community). (Foto: rangga)

Bandung - Sosok dengan rambut sedikit ikal, berkacamata, bergelut dengan bambu, dan switter abu-abu yang selalu menyelimutinya. Gaya bicara yang selalu diselingi dengan senyuman riang. Ia adalah Adang Muhidin, sang kreator bamboo sekaligus pendiri IBC (Indonesian Bamboo Community) dari Padalarang yang terkenal dengan alat musik bambunya.

Beberapa kali wajahnya tampil dalam acara-acara kesenian tradisional maupun moderen, baik dalam event nasional maupun event internasional. Penampilannya yang low profile dan seadanya ini, ternyata tidak sesuai dengan pikirannya. Pemikirannya yang selalu ingin menetaskan sesuatu yang baru dengan kemauan dan usaha yang tinggi berbuah hasil. Adang bersama IBC mampu mengenalkan tumbuhan asli Indonesia bamboo ke mancanegara melalui event-event yang di ikutinya melalui alat musik.

Setelah menyelesaikan pendidikan bidang logam di Eropa yang sangat bertolak belakang dengan bidang yang sekarang di gelutinya. Pria kelahiran Bandung 21 Februari 1974 ini  mampu membuktikan kepada dunia bahwa kreatifitas bangsa Indonesian bisa dihargai di kancah Internasional. Mimpi enam tahun yang lalu saat melihat perlaran orchestra, terlintas dalam pikiranya “Kalau bamboo dijadikan alat musik, dan bermain orchestra bagus juga”, ujarnya.

Pada awalnya ia hanya berangan-angan menciptakan alat musik dari bamboo. Setelah itu ia hanya fokus untuk mengenyam pendidikan di Eropa (Jerman) menuruti apa kata orang tuanya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, tahun 2005 ia memutuskan untuk kembali ke tanah air Indonesia. Dalam pikirannya  terbesit  mengenai bamboo, “Bamboo di Jerman sangat dihargai, kenapa dengan orang Indonesia tidak bisa menghargai bamboo, bamboo hanya diidentikan kemiskinan saja, harga ekonomis yang rendah serta diidentikan letak pohon yang hanya ada di pedesaan, dan pinggir selokan”, pikirnya.

Rasa keprihatinan, kurang menghargainya bamboo di negara ini, semakin membuat Adang bersikeras untuk membuat bamboo itu menjadi terpandang di mata orang Indonesia sendiri. Dengan ambisi yang meledak-ledak Adang pun mampu mendirikan komunitas yakni IBC.

IBC bergerak cukup lama setelah kepulangan Adang ke Indonesia, akan tetapi IBC mulai diresmikan pada tanggal 30 April 2011.

IBC (Indonesia Bambbu Community) bukan hanya komunitas yang bergerak di bidang alat musik bamboo, tetapi dalam seni lain seperti pembuatan kerajinan tangan, miniatur terbuat dari serpihan bamboo dan accesoris yang terbuat dari bamboo. Dari sinilah beberapa orang mulai mengenal Adang dengan bambunya, “Kenapa IBC identik dengan alat musik bamboo nya, karena kami lebih mengeksplor ke dalam hal tersebut”, ucapnya.

Ia pun mengatakan, “Mengapa IBC lebih terkenal dengan alat musiknya, ya jelas tentu karena alat musik kami terbuat dari material bamboo”.

Beberapa alat musik bamboo hasil IBC yang sudah naik di pengetahuan orang ada beberapa diantaranya biola bamboo, gitar bamboo, seksofone bamboo, terompet bamboo, alat tiup bamboo sudah kami kuasai, dan kami pun akan terus bereksperimen dengan alat-alat musik bamboo, tentunya tidak hanya alat musik saja, ia pun ingin kerajinan dari bamboo lebih terkenal.

Pembuatan alat musik bamboo tersebut tidak memakan waktu yang cukup lama, serta bahan baku untuk membuatnya pun cukup murah, kenapa tidak bisa dimanfaatkan.

Bamboo sendiri memiliki fungsi yang sangat beragam dimulai dari akar, akar bamboo bisa dijadikan sebagai hiasan dengan dibentuk kerajinan seperti patung, dari batang bisa digunakan sebagai bahan baku alat musik, bahan dalam pembangunan rumah, kemudian daun bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat kraf, dan sisa-sisa dari serpihan bamboo tersebut bisa dimanfaatkan sebagai kerajinan miniature dan lain-lain.

Banyak sekali event-event yang telah Adang lakoni bersama IBC dalam mengenalkan tanaman khas Indonesia ini. Dengan varietas yang bermacam-macam bamboo bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Event nasional sering kami lakukan, begitupun dengan event-event Internasional” ujar Adang. Memang awal mulanya Adang dan IBC hanya bermain di beberapa wilayah dan kota di Jawa Barat. Semakin sering, semakin banyak orang yang mengetahui fungsi bamboo, semakin banyak pula orang yang ingin mementaskan IBC.

Beberapa event yang pernah IBC ikuti diantaranya Java Jazz Festival (Internasional), Ranjong Art Festival (Internasional), Wahan Kreatif (Nasional). “ saya heran kenapa turis-turis asing lebih antusias dalam menanggapi bamboo ini dibandingkan dengan orang Indonesianya sendiri, itulah tidak adanya rasa peduli dan tidak ingin  mengetahui”, ujarnya.

Munculnya beberapa tawaran dan undangan dari luar negeri mulai berdatangan, setelah Adang dan IBC sedikit demi sedikit mengenalkan  bamboo melalui event-event Nasional maupun Internasional.

“Sebenarnya kami banyak tawaran dan undangan main diluar negeri, tapi ada sedikit kendala yang kami hadapi yakni kurangnya support dari pemerintah sendiri untuk mendukung kami, sebenarnya ada beberapa event undangan dari luar negeri yang kami tolak, diantaranya, undangan ke Belgia, Singapura, Francis yang diundang dalam Kongres Bamboo Internasional ( International Bamboo Congrest), mungkin belum saatnya kami kesana” ujar Adang.

Selain di Bandung sendiri sebagai Base Camp IBC (Indonesian Bamboo Community), setelah melakukan beberapa pementasan diluar kota. Ternyata IBC di sambut dengan hangat dan anemo masyarakat di kota-kota yang telah dikunjungi sangat baik. Sehingga sampai saat sekarang IBC pun memiliki cabang distrik di beberapa kota diantaranya Lampung dengan Yayasan Indonesian Bamboo Community Lampung meskipun masih dalam proses, kemudian di Yogyakarta sudah mulai merespon dan ingin mendirikan cabang distrik juga.

“Kami pun mempunyai harapan untuk kedepannya dengan planning kami, insyaallah akhir 2014 nanti, kami ingin melaksanakan Orchestra Bamboo dan kami berharap kami bisa menang di Indonesia Award karena kami menjadi salah satu nominasinya”,

“Bambu itu penghidupan, kehidupan, karena dengan bamboo kita mendapatkan banyak manfaatnya tanpa kita menyadarinya”. papar Adang Muhidin.(Ode)**

.

Categories:Hiburan,
Tags:hiburan,