Tim 9 Minta Presiden Dengarkan Suara Rakyat

Tim 9 Minta Presiden Dengarkan Suara Rakyat

Tim 9 Minta Presiden Dengarkan Suara Rakyat

Jakarta - Menyusul putusan majelis hakim melepas status tersangka terhadap Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan, membuat Tim Independen (Tim 9) bentukan Presiden melakukan rapat barisan.

Ketua Tim 9 Ahmad Syafi'i Ma'arif, Selasa (17/2) di Maarif Institute, Tebet Dalam, Jakarta Selatan,  menyatakan, meski dia menghormati hasil putusan hakim yang dipimpin Sarpin Rizaldi, tak sedikit kritikan putusan itu terus bermunculan.

Selain itu,  hasil putusan juga menuai kekecewaan dari para ahli hukum perguruan tinggi. "Karena sudah merusak struktur hukum Indonesia," kata Ma'arif.

Pria yang akrab disapa Buya itu juga mengatakan, malam ini Tim 9 kembali merumuskan hasil rapat usai prapradilan dengan menggelar rapat tertutup. Hanya  hasil rumusan tersebut tidak akan jauh berbeda dari yang direkomendasikan ke Presiden sebelumnya.

Buya menyatakan, seharusnya Presiden sebagai orang nomor satu di Indonesia, dapat memutuskan dengan cepat dilantik, atau tidaknya BG sebagai Kapolri. "Semua opsi itu punya risiko. Pemimpin sejati itu, pasti berani mengambil risiko. Mungkin, Presiden punya payung hukum sendiri, dilantik, atau tidak dilantik itu kan punya risiko," jelas Buya.

Buya menganalogikan, seorang pemimpin haruslah menjadi seperti seekor Rajawali yang memiliki mata tajam dan bukan kelelawar yang memiliki penglihatan redup di kala siang hari.

Lantas bagaimana pandangan Buya jika Budi Gunawan tetap dilantik? "Lihat sajalah nanti. Tapi menurut saya begini, mau mendengarkan suara rakyat, opini publik, moralitas publik, atau akan tunduk pada tekanan. Bedanya itu. Kalau saya pilih suara rakyat," tutur Buya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:nasional,