Energi Listrik Tenaga Angin Kenapa Tak Dicoba?

Energi Listrik Tenaga Angin Kenapa Tak Dicoba?

Ilustrasi.(Foto:Net)

Bandung - Dengan semakin tingginya kebutuhan pasokan listrik di seluruh Indonesia, sejumlah daerah giat mencari teknologi untuk menghasilkan energi listrik. Ini sebagai salah satu teknologi alternatif yang dilirik sebagian daerah untuk menghasilkan energi adalah angin.

 

Untuk mengatasi ekploitasi tambang minyak bumi yang makin membabi buta dan kehancuran lingkungan akibat limbah emisi gas industri, termasuk pembangkit listrik berbahan bakar minyak dan batu bara. Kini, sudah saatnya pemerintah daerah di seluruh Indonesia mengembangkan program PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Angin), yaitu pembangkit listrik yang digerakkan energi angin.

 

Banyaknya manfaat energi angin untuk kehidupan manusia ternyata dijadikan objek penelitian para lembaga atau perusahaanGreen Energi Research di Indonesia. 

Contoh, salah satu perusahaan Green Energi Research di Bandung. Perusahaan itu berupaya mengembangkan pemanfaatan energi angin dengan cara membuat instrumen untuk pengukuran terowongan angin dan tenaga angin (quick turbin). Selain itu sedang disosialisasikan software untuk perhitungan baling-baling, dan mengembangkan alat untuk mengukur kualitas kelistrikan yang dihasilkan energi angin.

 

Menurut Triprobowo Mujono konsultan Green Energi Research, tempat terbaik untuk membangun pembangkit listrik energi angin adalah daerah pesisir pantai atau daerah pegunungan.

 

“Syarat ideal untuk pembangkit energi ini, yaitu angin minimal 3 meter/detik. Rata-rata di Indonesia angin bertiup dengan kecepatan 5-6 meter/detik. Jauh berbeda dengan angin bertiup di negara-negara Eropa dan Amerika yang bisa mencampai 10-12 meter/detik”, jelas Tripribowo di Setra Sari Mal, Kota Bandung belum lama ini.

 

Dengan demikian,  alat yang digunakan di Indonesia rata-rata dirancang sesuai dengan kondisi teknis tempat pembangkit itu dibangun. Kebanyakan alat yang digunakan untuk pembangkit energi angin asli buatan dalam negeri,. Sebab alat-alat buatan luar negeri tidak cocok dengan kondisi angin di Indonesia.

 

Triprobowo menambahkan, perusahaannya saat ini sedang mengembangkan alat pembangkit listrik energi angin yang bisa digunakan oleh kalangan industri atau rumah tangga.

 

“Alat yang dibuatnya dijual sekitar Rp 15 juta/unit. Untuk memasyarakatkan penggunaan energi angin, perusahaan berencana akan mengembangkan alat pembangkit listrik yang lebih ekonomis, dengan kisaran harga di bawah Rp. 5 juta,” tambahnya

 

Alat untuk pembangkit ini memang sederhana terdiri dari baling-baling serta generator, semakin besar ukuran alat yang digunakan semakin besar pula listrik yang dihasilkan. Rata-rata listrik yang dihasilkan energi angin di Indonesia mencapat 1.000 watt. 

Energi ini sebaiknya mendapat perhatian serius dari pemerintah, karena masih banyak daerah di Indonesia belum dialiri listrik namun memiliki potensi angin yang besar.

 

Mudah-mudahan dengan digunakannya energi angin, semua masyarakat bisa memanfaatkan hasilnya dengan optimal dan krisis energi tidak terjadi lagi di Indonesia, mengingat masih ada daerah di Jawa Barat yang belum dialiri listrik. (Jr.)**

 

.

Categories:Infotech,
Tags:teknologi,