Ceu Popong Harusnya Jadi Presiden RI

Ceu Popong Harusnya Jadi Presiden RI

Popong Otje Djundjunan (Foto: Net)

MASIH melekat di ingatan kita, tatkala Popong Otje Djundjunan harus kebingungan ketika  mencari palu yang tiba-tiba menghilang di tengah rusuh anggota DPR, Kamis 2 Oktober 2014 malam. Kala itu para anggota dewan yang baru terpilih tengah menentukan pimpinan DPR periode 2014-2019.

Ya, kebingungan Ceu Popong --panggilan akrabnya-- pun tak berlangsung lama, karena palu tersebut akhirnya ditemukan kembali. Namun peristiwa tersebut diduga ada motif tersembunyi di balik hilangnya palu tersebut. Memang kehilangan palu kali pertama terjadi.  

Motifnya, bisa dimaknai bahwa keputusan yang dibuat secara sepihak, dibuat atau diusahakan supaya (menjadi) musyawarah. Benarkah begitu ?

Namun, apa sebetulnya makna lebih jauh di balik peristiwa langka yang dilakukan Ceu Popong tersebut di kemudian hari ? Tak dapat dipungkiri, atas sikap dan perilaku Ceu Popong saat memimpin sidang paripurna tersebut secara tidak langsung dia pun telah menjai buah bibir di berrbagai kalangan.

Tak terbatas di kalangan anggota dewan, tetapi hampir seluruh masyarakat larut dalam pembicaraan seputar sepak terjang seorang nenek berusia 76 tahun terebut. Tak dinyana, Ceu Popong mendadak menjadi terkenal. Banyak yang menyanjung, banyak juga yang mengkritik. Namun, tak sedikit pula yang merasa geli dan tertawa melihat aksi Ceu Popong pada saat memimpin sidang. 

Sejalan dengan era teknologi sekarang ini, Ceu Popong pun tak mau ketinggalam mengikuti dan aktif mengisi, menanggapi, menjawab berbagai pertanyaan ataupun tangggapan yang dituangkan dalam laman facebook-nya. Kalau kita simak, Ceu Popong tenyata meraih banyak pujian atas aksinya memimpin sidang paripurna tersebut.

Seperti yang sempat dilansir dalam facebook-nya Ceu Popong berikiut ini. "salout buat nenek/ibu gw popong itje djundjunan.....," tulis Ryono Prakasha. Ada pula pujian dari Sujana Dekam Rahayu misalnya yang menulis, "thebest salut ibu Popong Otje Djundjunan harusnya jd Presiden RI."

Yah memang, tak berlebihan kiranya kalau kita pun punya asumsi yang sama seperti yang dituturkan Sujana Dekam Rahayu terhadap Ceu Popong. Tegas, berwibawa tapi ramah, serta gaya kepemimpinannya yang begitu memesona yang sesekali diselingi dengan gaya kocak (bodor). Semua itu jelas membuat kita angkat topi terlebih di saat usianya yang sudah memasuki masa senja sekarang ini. 

Seorang wanita kelahiran Bandung pada 30 Desember 1938 itu, memang karena lahir, besar, dan lama tinggal di Bandung, tak heran apabila kerap berbicara dalam bahasa Sunda. Begitupun ketika memimpin sidang paripurna, beberapa kali Ceu Popong terdengar berkomentar dalam bahasa Sunda atau bicara dalam logat Sunda. Misalnya, saat mencari palu sidang. "Mana paluna, euweuh? (Di mana palunya? tak ada)," katanya.

Jebolan SMA Negeri 5 Bandung ini untuk selanjutnya kuliah di IKIP Bandung (kini Universitas Pendidikan Indonesia - UPI), senantiasa aktif berpolitik. Hal itu pula yang mengantarkan Ceu Popong menjadi anggota DPR pada 1987 dari Partai Golkar. Politisi partai beringin ini sudah lima kali menjadi anggota dewan, dan pada periode 2009-2014 dia duduk di Komisi X  Fraksi Golkar.

Tak hanya berpolitik, ibu empat anak ini juga aktif di berbagai organisasi baik di bidang sosial, pendidikan, dan budaya, sejak duduk di bangku sekolah dasar.  Dia pun dikenal dengan kiprahnya dalam memperjuangkan emansipasi wanita.

Bahkan pada tahun  2011 lalu, Ceu Popong dianugerahi gelar doktor honoris causa oleh UPI Bandung, atas jasanya menanamkan budaya Sunda dalam kehidupan bermasyarakat. Di usianya kini, dia tetap aktif berpolitik dan mencurahkan perhatian dan gagasannya demi kemajuan negeri ini ke depan. Salut....untuk Ceu Popong. (Jr.)**
.

Categories:PenaCikal,

terkait

    Tidak ada artikel terkait