The S.I.G.I.T Rindu Tampil di Daerah "Second City"

The S.I.G.I.T Rindu Tampil di Daerah

The S.I.G.I.T

Bandung -  Di Bandung, nama grup band  The S.I.G.I.T singkatan The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, sudah tidak asing lagi. Khususnya di kalangan anak muda underground. Grup indie yang banyak dikenal di luar negeri ini, tetap produktif meski pentas musik tidak sekencang dua tahun silam. 
"Iya sepi nih tahun 2014  formasi musik berkurang, kita ikut merasakan, paling mainnya di Bandung atau Jakarta, dalam sebulan masih ada 5 sampai 6 pentas yang kami isi, mungkin situasi politik juga ya ikut mempengaruhi," kata Rektivianto Yoewono, vokalis The S.I.G.I.T di kantor Redaksi CikalNews.com, Sabtu (4/10/2014) malam.

Menurut Rekti, meski musik Indonesia tidak terlalu se booming  dulu, bagi grupnya  tidak terlalu masalah.  Grup yang diperkuat  juga oleh  Aditya Bagja Mulyana, Farri Icksan Wibisana, dan Donar Armando Ekana, tidak terlalu memikirkannya.
 
" Tugas kami kan bagaimana agar  tampil dihadapan pencinta musik The S. I. G. I. T, penontonnya bisa dibuat enjoy dan sama-sama terhibur. Sama seperti misi album kami yang dibuat dalam format piringan hitam tahun 2013 kemarin, kita kan enggak punya single jagoan, ada  juga 11 track lagu karya kami orisinal,"  kata pria berkaca mata ini. 

Pelantun "Soul Sister" ini mengatakan, masih banyak "PR" yang harus diselesaikan. Termasuk mereka berkeinginan bisa tampil di beberapa daerah di Indonesia. " Iya biasanya tampil kalau bukan di Bandung, ya paling di Jakarta, padahal kita ingin  tampil di daerah-daearah lainnya, bukan hanya di kotanya seperti  Makassar,  Palu atau di Surabaya, ini yang belum kesampaian, second sity," papar pemilik  album  "Detourn" ini. 

Tetapi, dia yakin, obsesi manggung di kota-jkota kedua di Indonesia, semoga cepat terwujud  melalui talent yang bisa menghubungkan mereka dengan penggemar The S.I.G.I.T di daerah. "Seperti saat kami menyelesaikan album 'Detourn' itu benar-benar menabrak kelaziman, enggak bikin video klip, enggak meluncurkan single terlebih dahulu. " Iya maunya kita ini lho karya kami ada 11 track, dengarin aja semua, kalay enggak mau dengarin, maksa," paparnya terkekeh. 

Bagaimana dengan selera musik saat ini? Bergeserkah? " Enggak juga, sama saja sebenarnya. Sekarang ini era digital, anak-anak muda sibuk sendiri-sendiri, sibuk bbm, sibuk facebook, sibuk chatting, sibuk ngetweet lah pokoknya  seperti terbelenggu oleh alat komunikasi  modern itu. Padahal kalau dulu, suka ngariung, tukar pikiran juga jalan, rasa kolektifnya ada, ini yang dirasa hilang," kata Rekti. 
Akan tetapi, dia tidak menyalahkan. Tugas merekalah untuk mengembalikan rasa kebersamaan itu. Salah satunya dengan sering menggelar bazar , tujuannya  jelas agar bisa ngumpul positif, dan bisa sama-sama bicara musik,  saling tukar pernak pernik anak band  dan masih banyak lagi," katanya optimistis. 

Lalu apa kesibukan anak band di luar The S.I.G.I.T? "Ya ini, aku punya koleksi piringan hitam paling lengkap di Bandung, bazar yang diadakan di Eduplex ini adalah salah satu kegiatanku, rekan yang lain ada yang arsitek, ada juga sibuk dengan kegiatan audio visual, "Pokoknya semua bisa mengisi waktu disela-sela main musik" papar sang vokalis yang pernah tampil di Amerika, Hongkong, Australia  dan banyak negara ini  karena faktor bandnya yang selalu tampil "panas" seraya pamit. (Ode)**     

.

Categories:Musik,

terkait

    Tidak ada artikel terkait