Jokowi, Eksekusi Mati Adalah Kedaulatan Indonesia

Jokowi, Eksekusi Mati Adalah Kedaulatan Indonesia

Presiden RI Joko Widodo.(Foto:Net)

Presiden Joko Widodo mengatakan menarik pulang Duta Besar RI untuk Brasil Toto Riyanto "demi kehormatan" setelah surat kepercayaan Dubes Toto ditolak oleh Presiden Brasil.
Jumat pekan lalu (20/02), Toto Riyanto memenuhi undangan resmi Presiden Brasil Dilma Rousseff untuk menyerahkan surat kepercayaan bersama sejumlah duta besar negara-negara lain di Istana Kepresidenan Brasil. Namun mendadak, Toto diberitahu bahwa penerimaan surat kepercayaan itu "ditunda."
 
Dalam keterangan kepada wartawan pekan lalu, Presiden Brasil Dilma Rousseff mengatakan: "Kami pikir hal yang penting adalah terjadi perubahan keadaan sehingga kita jelas terkait hubungan Indonesia dengan Brasil."
 
Jokowi juga mengatakan eksekusi hukuman mati adalah kedaulatan Indonesia. "Dubes saya tarik karena ini masalah kehormatan... Kita ingin bersahabat dengan negara manapun. Tapi kalau kejadiannya seperti Brasil kita akan tegas," kata Jokowi dalam konferensi pers di Istana Negara Selasa (24/02).
Menanggapi sikap Brasil yang menyatakan kecewa dengan eksekusi seorang warga negaranya dan rencana eksekusi satu orang lainnya, Jokowi mengatakan hal itu adalah kedaulatan Indonesia.
 
"Eksekusi hukuman mati jangan ada yang mengintervensi. Ini kedaulatan hukum dan politik Indonesia," kata Jokowi, dan menambahkan bahwa tidak akan ada penundaan eksekusi karena tekanan politik.

Tinjau rencana pembelian alutsista

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla pada hari Senin (23/02) mengatakan Indonesia tengah meninjau ulang pembelian sejumlah jet tempur dan peluncur roket dari Brazil, mengingat hubungan kedua negara memburuk selama pelaksanaan eksekusi mati tersangka narkoba asal Brasil.
Kedua negara itu telah menarik para duta besar mereka dalam perseteruan yang dimulai ketika Indonesia mengeksekusi warga Brasil Marco Archer Cardoso Moreira dan lima lainnya untuk kasus penyelundupan narkoba bulan lalu.
Warga negara Brasil yang kedua berada di antara kelompok kedua yang terdiri dari 11 narapidana yang akan segera dieksekusi di Indonesia, negara yang memiliki aturan ketat dalam perdagangan narkoba di dunia.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa pemerintah sedang memikirkan kembali pengadaan satu skuadron 16 Brasil buatan Embraer EMB-pesawat 314 super Tucano untuk angkatan udara Indonesia, lapor sebuah surat kabar.
 
Negara di Asia Tenggara itu juga mempertimbangkan untuk membatalkan pesanan beberapa sistem peluncur roket.
Brasil dan Belanda menarik para duta besar mereka dari Indonesia tak lama setelah pelaksanaan eksekusi.
Brasil mengambil langkah lebih lanjut dengan menolak surat kepercayaan dari duta besar baru Indonesia, yang mendorong negara di Asia Tenggara itu untuk menarik kembali duta besarnya ke Jakarta sebagai bentuk protes.
 
Indonesia juga terlibat dalam sengketa diplomatik dengan Australia atas nasib dua warga Australia yang merupakan anggota jaringan perdagangan narkoba "Bali Nine" dan dijadwalkan akan segera dieksekusi.
Presiden Indonesia Joko Widodo, yang mulai menjabat pada bulan Oktober, berjanji tidak akan memberikan grasi bagi para pelaku perdagangan narkoba, meskipun sejumlah negara seperti Uni Eropa, Brazil, Australia dan Amnesty International telah mengajukan permohonan.(Ode)**
.

Categories:Nasional,
Tags:jokowi,