LPPM, Investor Malaysia Rambah Hutan Mangrove

LPPM, Investor Malaysia Rambah Hutan Mangrove

?foto ilustrasi penanaman mangrove langkat (Net)

Langkat - Lembaga Pengkajian Pelayanan Masyarakat (LPPM) melaporkan investor asing asal Malaysia melakukan perambahan dan alih fungsi lahan mangrove seluas 23 ha. Lahan itu menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit  di kawasan Beting Selangat, perbatasan Desa Pasar Rawa dengan Desa Kuwala Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat.

"Kita sudah layangkan surat laporan atas temuan kita ke Camat Gebang bernomor 02/LPPM/LKT/II/2015 tanggal 23 Februari 2015, tentang tindak pidana perambahan mangrove di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang ke Ibu Camat Gebang. Surat itu ditembuskan ke Bupati Langkat, Kadis Hutbun Langkat, Ketua DPRD Langkat, Kapolres Langkat, Kejari Stabat dan Kakan Satpol PP Langkat" ujar Sekjend LPPM Abu Sofyan kepada Cikalnews.com, Selasa (24/2)

Sofyan mengatakan, ada dua lokasi perambahan mangrove yang tidak direstui pemerintah di Desa Pasar Rawa. Pertama, dilakukan oknum investor Malaysia 23 hadi Beting Selangat, dan 50 ha di kawasan Terusan Panjang Dusun Kelantan, Desa Pasar Rawa yang dilakukan oleh A Ling, pemilik showroom sepeda motor di Stabat. 
 
Sebelumnya, A Ling bersama A Cin, seorang tersangka dan pernah ditangkap Polres Langkat atas perambahan hutan mangrove di kawasan hutan wisata bahari di Desa Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu tahun 2013 lalu. Namun, kasusnya terhenti tanpa ada vonis hakim.

Dijelaskan,  23 ha mangrove di Beting Selangat terletak dan dalam administratif Desa Pasar Rawa. Namun kenapa dikeluarkan SK Camat wilayah itu masuk Desa Kuwala Gebang oleh mantan Kepala Desa Kwala Gebang. 

Sementara Koordinator LPPM Misno Adi menambahkan, kopi surat dari Bupati Langkat untuk menertibkan alih fungsi lahan pesisir tahun 2011 dan surat Camat Gebang tahun 1995, juga dilampirkan dalam laporan itu. Ironisnya, 3 unit beku yang beroperasi di lahan yang tidak memiliki izin operasi itu mulus beroperasi.

Terpisah, Kepala Desa Pasar Rawa Kecamatan Gebang, Farida mengaku tidak tahu menahu tentang perambahan mangrove itu. "Tanah itu kan masih bermasalah, kok bisa diperjualbelikan dan suratnya kan atas nama Desa Kuwala Gebang," sebut Farida. (Jr.)
.

Categories:Daerah,
Tags:budaya,