Dadan Mengais Rezeki dari Ngamen

Dadan Mengais Rezeki dari Ngamen

Ilustrasi.(Foto:Net)

Bandung - Berpanasan di tengah terik matahari mungkin sudah menjadi hal biasa bagi Dadan, sosok pemuda berusia 29 tahun yang mengantungkan hidupnya sebagai pengamen jalanan. Pemuda asli Bandung yang hanya tamatan SD ini sudah mengantungkan hidupnya di jalan sejak 19 tahun lalu.

 

Melihat kondisi perekonomian keluarga yang sedang terhimpit itulah alasan Dadan turun ke jalan. Sejak berusia 10 tahun Dadan sudah mengenal  kerasnya mengumpulkan uang recehan demi sesuap nasi, baginya hidup di jalan adalah sesuatu yang bermakna.

 

Menurut Dadan, dengan pengalaman yang cukup lama di jalan, ia menjadi banyak tahu tentang ilmu kehidupan. Selain menjadi pengamen, Dadan juga pernah mencoba pekerjaan lain seperti ; pedagang asongan, atau pun pedagang keliling.

 

“Kandasnya usaha yang Dadan rintis tak lain yaitu karena faktor permodalan, dengan modal yang pas-pasan dirasanya sulit untuk bisa berkembang. Selain faktor modal, ada juga faktor eksternal yang akan melemahkan tekadnya, banyaknya penertiban yang dilakukan Satpol PP kepada pedagang kaki lima atau pedagang asongan merupakan ancaman pahit," tutur Dadan beberapa waktu lalu.

 

Selama menjalani profesi sebagai pedagang, ia telah mengalami beberapa kali pencidukan oleh Satpol PP. Sewaktu pencidukan itu, biasanya para pedagang dikenakan biaya untuk menebus barang dagangannya. Itu adalah alasan dasar bagi Dadan mengapa ia meninggalkan profesinya sebagai pedagang.

 

Setelah usai berdagang, ia juga pernah pernah mengembangkan potensinya di bidang seni, ia pernah tergabung di yayasan yang berkecimpung diperkembangan Seni dan Budaya. Lama disana, ternyata tidak 100 % menjamin perbaikan ekonominya, pentas seni yang hanya ada manggung seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali ternyata kurang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Maka dari itu Dadan kembali mencoba meraup lembaran rupiah di jalan, mengamen di jalan baginya sesuatu pekerjaan yang menyenangkan. Ia bisa menghibur banyak orang walau hanya diberi uang receh ratusan atau pun lambaian tangan.

 

Mengamen memang membuat penilaian orang lain kepadanya jelek, pengamen dianggap masyarakat hanya sampah yang mengotori kota. Sikap diskriminasi yang dialami anak jalanan (pengamen red) juga sering menimpa Dadan, ketika mengamen ada saja pengguna jalan yang keras menolak dan mencemoohnya. Kejadian itu ia terima dengan lapang dada, semua itu memang menjadi hal wajar untuk anak jalanan.

 

Dadan berpesan sebaiknya Pemkot Bandung bisa mencarikan solusi terbaik untuk anak jalanan yang memang membutuhkan perkerjaan. Melihat sekarang ini bukannya wadah penampung bakat & potensi yang di buat, tetapi malah penertiban atau pengarukan tanpa solusi.(Ode)**

.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,