Daya Beli Menurun, Rakyat Hidup Kian Terjepit

Daya Beli Menurun, Rakyat Hidup Kian Terjepit

Ilustrasi.(Foto:Net)

GENAPLAH sudah penderitaan rakyat di pemerintahan Jokowi-JK ini. Beban hidup semakin bertambah akibat turunnya daya beli masyarakat. Bahkan, kesulitan yang terus menghimpit kehidupan sebagian besar masyarakat tampaknya semakin menjadi, mengingat kenaikan harga barang khususnya kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat semakin tak terkendali.
 
Tak disangkal, apabila banyak masyarakat yang menggerutu menghadapi kondisi perekonomian saat ini, yang ditandai oleh harga barang-barang yang tak terjangkau lagi. Bahkan, sumpah serapah pun seringkali terlontar menghadapi berbagai kebijakan pemerintah yang sepertinya semakin tidak prorakyat. Jauh dari kepentingan rakyat banyak, sebaliknya hanya memeras dan mencekik rakyat lewat berbagai kebijakan yang digulirkannya.
 
Betapa tidak, ya diawali dari kelangkaan stok bahan pokok seperti beras, yang pada akhirnya telah mendongkrak harga beras di pasaran tak terkendalikan. Belum lagi perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) yang naik turun hingga membuat masyarakat menjadi bingung dibuatnya.  Pada kondisi itu, jelas semakin memicu naiknya harga barang-barang secara keseluruhan, mengingat kalangan pedagang pun jelas tidak mau rugi menjual barangnya.
 
Akibatnya, masyarakat jualah yang memikul beban berat semua ini. Dengan begitu, daya beli masyarakat umumnya dipastikan semakin turun, sejalan dengan makin terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini.
 
Anehnya, kebijakan kenaikan harga BBM di dalam negeri yang digulirkan pemerintah justru terjadi di saat harga minyak mentah dunia tengah melorot tajam. Ini jelas-jelas bahwa pemerintah tidak lagi memikirkan nasib dan kehidupan rakyatnya yang dililit berbagai kesulitan. Namun begitu, akhirnya pemerintah pun menurunkan kembali harga BBM premium, tetapi pada saat harga berbagai kebutuhan pokok dan tarif angkutan sudah terlanjur naik.
 
Pada kondisi ini, kita melihat dengan diturunkannya harga BBM tersebut tidak sertamerta bisa membantu terhadap kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Namun justru menimbulkan kekecewaan, mengingat hidup tetap sulit bahkan semakin sulit. 
 
Lagi-lagi, belakangan pemerintah kembali menaikkan harga BBM jenis premium. Meski kenaikannya tidak terlampau tinggi, hanya Rp 200 per liter, dorongan terhadap kenaikan harga barang umumnya tetap tak tertahankan. Lebih parah lagi, pada saat harga barang-barang melambung tinggi, biaya-biaya lain sepertinya juga ikut terpacu meningkat.
 
Belum lagi masyarakat bisa mengatasi dan memikirkan bagaimana caranya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, permerintah kembali menaikkan harga gas elpiji isi 12 kg. Jelas, ini semakin menghimpit kehidupan masyarakat yang seakan tak henti-hentinya dirundung masalah finansial. Ini kembali kepada kebijakan pemerintah yang tak lagi memikirkan nasib rakyat kebanyakan.
 
Para elit kadung memikirkan dan mengurus urusan politik bagin kepentingan masintg-masing. Sementara masalah ekonomi terlanjur telantar, sehingga pada akhirnya masyarakat yang harus  memikul beban begitu berat. 
 
Siapapun tidak akan ada yang mendukung atas kebijakan pemerintah yang digulirkan secara bertubi-tubi ini, yang jelas-jelas selain meresahkan juga menekan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Ibaratnya, sudah hidup susah ditambah lagi dengan kondisi keuangan yang semakin tidak mendukung karena harga barang umumnya sudah tak terjangkau.
 
Bahkan, dengan meminjam analisa para pengamat yang menyatakan bahwa pada saat BBM dijual Rp 6.800 per liter sekarang ini, maka harga tersebut dinilai kemahalan. Padahal, mestinya harga BBM jenis premium tersebut dijual tak lebih dari kisaran Rp 4.850 - Rp 5.850. Artinya, dengan tingkat harga premium tersebut, malah rakyat yang harus memberikan subsidi kepada pemerintah yang tidak kurang dari Rp 1.100 per liter.
 
Aneh memang, kondisinya menjadi terbalik seratus derajat. Di mana yang tadinya rakyat disubsidi namun kini justru harus mensubsidi, manakala kita membeli BBM jenis premium. Inilah potret pemerintah sekarang ini, yang katanya --lewat janji-janji muluknya-- ingin membela rakyat kecil. Yang jelas,  rakyat semakin diperas untuk memenuhi keinginan dan ambisi penguasa.
 
Ya, menyoal dinaikkannya harga BBM premium misalnya. Meski kenaikannya relatif kecil yakni hanya Rp 200 per liter, tak terpikirkan dampaknya terhadap laju harga barang secara keseluruhan begitu besar. Memang, kenaikan itu sepertinya tak terasa karena kita pun tidak setiap hari membeli bensin. Namun, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari khususnya untuk makan dan minum, jelas harus senantiasa dipenuhi oleh masyarakat secara keseluruhan.
 
Terlepas dari hiruk pikuk sulitnya menjalani kehidupan ini, tetapi hidup harus terus dijalani meski dengan kondisi apapun.  Biarlah mereka larut dengan berbagai ambisinya, di tengah kehidupan rakyatnya yang merana.  
 
Kita pun sepertinya tak bisa lagi menunggu adanya bantuan ataupun dukungan dari pemerintah, kalau pada kenyataannya justru berbanding terbalik dari apa yang kita harapkan. Apapun yang terjadi, kita patut berbesar hati dalam menghadapinya, agar apa yang kita pikirkan dan kerjakan diridhoi oleh Allah SWT. Amin. **
.

Categories:PenaCikal,
Tags:ekonomi,

terkait

    Tidak ada artikel terkait