BKSDA Selidiki Pembuang Limbah Medis di Garut

BKSDA Selidiki Pembuang Limbah Medis di Garut

Ilustrasi.(Foto:Net)

Bandung - Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Barat saat ini sedang menyelidiki temuan limbah medis di tiga titik atau seluas tujuh hektare di Kabupaten Garut, Jawa Barat.


"Temuan limbah medis itu sepertinya masih baru dan dijalankan di awal tahun 2015 ini. Kami belum tahu siapa pelakunya dan ini masih dalam tahap investigasi," kata Kepala Badan konservasi Sumber daya alam (BKSDA) Jawa Barat Sylvana Ratina, ketika dihubungi melalui telepon, Senin (9/3/2015).

Temuan limbah medis tersebut, kata dia, juga ditemukan di Gunung Kamojang, Kabupaten Garut.

"Hal tersebut sangat memprihatinkan tentunya terlebih hal itu telah akan merusak lingkungan sekitarnya," katanya.

Ia mengatakan, perusakan lingkungan di Kabupaten Garut sudah semakin parah seperti ada beberapa kawasan di cagar alam yang dijadikan pembalakan liar hutan dan galian pasir ilegal.

Dikatakan dia, kerusakan lingkungan di Gunung Guntur yakni sekitar 89 hektare lahan yang rusak diakibatkan aktivitas galian c penambangan pasir.

"Seperti halnya di kawasan Citiis seluas 7,8 hektare, kemudian kawasan Cilopang 3,67 hektare dan kawasan Tapal Kuda," katanya.

Menurutnya, penambangan ilegal tersebut sudah berjalan cukup lama dan sudah berjalan dari sejak tahun 1996.

"Selama ini ada sekitar 400 truk yang beroperasi disana. Modusnya mereka menambang di malam hari dan dikeluarkan di kawasan masyarakat, seolah olah itu ditambang dari lahan masyarakat," katanya.

Oleh karena itulah pihaknya berharap pemerintah Provinsi Jawa Barat dan tim satgas hukum terpadu lingkungan hidup dapat segera melakukan langkah langkah dan membantunya.

"Kami sangat mendukung tindakan pemerintah, harus ada penegakan hukum disana," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan berdasarkan hasil penelusurannya, aktivitas penambangan pasir di kawasan Gunung Guntur itu mencapai 400 truk setiap harinya.

"Modus yang dilakukan para penambang pasir itu yakni dengan cara pada tengah malam kemudian diangkut dan disimpan di lahan masyarakat. Sehingga, pasir yang sebenarnya dari Gunung Guntur itu akan dikira berasal dari lahan milik masyarakat," kata dia. (AY)
.

Categories:Daerah,