Solihin Tukang Patri, Tetap Bertahan Diantara Modernisasi

Solihin Tukang Patri, Tetap Bertahan Diantara Modernisasi

Solihin sang tukang patri tua. (Foto Ade)

Keberadaan tukang patri di Kota Bandung saat ini sudah terlihat langka. Sepuluh tahun lalu, masih kita jumpai tukang patri berkeliling disetiap komplek perumahan, kini pemandangan tersebut nampaknya sudah hilang di tengah kota besar yang serba modern.

Suatu siang yang panas,  CikalNews.com  berhasil bisa bertemu dengan sosok pengrajin patri atau tukang patri disekitar kawasan Cicadas, Jl. Ahmad Yani, Bandung. Kami sempat beberapa menit berbincang dengan kakek tua bernama Solihin (65) asal Ciawi, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat yang sehari-hari menjadi tukang patri. Dari situlah banyak cerita mengalir tentang berjalanan keras tukang patri ini. 
 
Menurut cerita  Solihin, daerah Ciawi, Kab. Tasikmalaya adalah kampungnya tukang patri, di desanya sejak puluhan tahun lalu memang mematri dijadikan modal mencari nafkah bagi penduduk di sana.

"Semua tukang patri yang ada di Jawa, khususnya Jawa Barat pasti orang Ciawi, Tasikmalaya," cerita Solihin, Selasa (7/10/2014).  

Di desanya saja ada hampir 30 orang bekerja menjadi tukang patri di beberapa kota besar seperti, Bandung, Jakarta, Bogor, dan Serang, namun akibat jarangnya pengguna jasa tukang patri, lambat laun keberadaan mereka terkikis. Dia mengaku di Bandung saja hanya ada 4 tukang patri, tapi karena sepinya pelanggan 2 tukang patri kembali pulang kampung untuk bertani.
 
Kakek yang sudah 42 tahun berkecimpung di dunia matri-mematri ini menilai kaum muda didesanya kini sudah enggan melanjutkan pekerjaan menjadi tukang patri.
 
"Regenerasi tidak terjadi, sehingga lama kelamaan kerajinan mematri bisa hilang atau punah," serunya.

Ketika diamati pekerjaannya sekilas nampaknya mudah, seseorang tukang patri tinggal mengukur besar lubang, mengampelasnya lalu menutup selembar seng kemudian ditetesi dengan timah panas sebagai perekatnya. Dari alat yang digunakannya pun sederhana, mulai dari  gunting seng, seng, ampelas, timah, alat pemanas dari arang, dan besi sebagai alat patri. Tetapi menurutnya mematri memerlukan keterampilan atau tehnik khusus, jadi tidak hanya asal tempel.

"Kalau asal tempel dikhawatirkan tambalannya tidak akan tahan lama," paparnya.
 
Meskipun didesanya kerap diadakan pelatihan mematri, namun antusias kaum muda saat ini untuk belajar mematri terbilang rendah. Pemuda di sana lebih bangga menjadi kuli bangunan atau pedagang, ketimbang tukang patri. Jadi rata-rata tukang patri yang kita temui sekarang memang berusia lanjut.

Kakek lima cucu ini kerap mencari nafkah dengan berkeliling di daerah Cicadas, Jl. Suci, Jl. Jakarta, dan daerah Cikaso, seharian berkeliling ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp 50 ribu jika sedang ramai, kalau kondisi sepi paling hanya Rp. 25 ribu sampai Rp. 30 ribu. Untuk jasa mematri dikenakan tarif seharga Rp. 5.000,- hingga Rp. 7.000,-/panci, itupun tergantung kondisi panci. Kalau lubangnya banyak dan besar-besar bisa mahal ongkosnya.(Ode)** 
 
 
.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,