Industri Keuangan Syariah Jauh Tertinggal

Industri Keuangan Syariah Jauh Tertinggal

Gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. (Foto: InfoBank)

Jakarta - Inovasi perbankan syariah di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Padahal, perkembangan industri keuangan syariah sendiri mengalami peningkatan yang sangat pesat.


Menurut Deputi Komisoner OJK bidang Kesehatan Perbankan I Mulya E Siregar, guna mengejar ketertinggalan tersebut perlu dilakukan riset keuangan syariah dalam hal ini Forum Riset Keuangan Syariah (FRKS). "Kalau ditanya ini dari 2010 masih lambat, sudah ada forum ini saja lambat gimana tidak ada, ini kondisi yang terjadi saat ini," kata Mulya di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (7/10/2014).

Mulya melanjutkan, riset keuangan syariah saat ini perlu dilakukan lantaran mampu menyiapkan SDM berkualitas dan mampu menjadi basis OJK dalam menerbitkan suatu kebijakan yang sesuai dengan harapan.

Oleh karena itu, kesadaran tiap perbankan di Indonesia untuk jauh lebih inovatif menangkap perkembangan keuangan syariah di Indonesia pun sangat diperlukan, yang nantinya akan didukung oleh data hasil riset tersebut. "Kita berpikir bagaimana akademisi dan masyarakat itu bisa lebih mengenal lagi tentang keuangan syariah," tambahnya.

Data OJK hingga Agustus menunjukkan, ada 12 bank syariah saat ini dengan jumlah unit usaha syariah sebanyak 22 unit dan BPR Syariah sebanyak 163 bank. Industri keuangan syariah tersebut memiliki jaringan kantor sebanyak 2.582 dengan total aset, pembiayaan, dan penghimpunan DPK perbankan syariah untuk BUS dan UUS,  masing-masing. Sebesar Rp 251,26 triiun, Rp 193,31 triliun dan Rp 194,64 triliun. 

Sementara untuk sukuk koperasi sampai Mei 2014, total mencapai Rp 12,29 triliun, yang terdiri dari 65 emisi sukuk, dengan outstanding Rp 6,96 triliun atau 3,17 persen market share emisi saham di di bursa. Untuk daftar efek syariah yuang tercata sebanyak 326 saham syariah dengan nilai Rp 2.955,8 triliun atau 58,6 persen dari total nominal keseluruhan daftar efek. 

Kemudian, asuransi syariah tercatat sebanyak 49 lembaga atau meningkat 8,9 persen dibanding periode yang sama tahunlalu, dengan total aset sebesar Rp 16,66 triliun atau 4,52 persen dari nilai aset industri asuransi nasional. Untuk perusahaan pembiayaan syariah saat ini sudah sekitar 48 perusahaan, dengan total aset sebesar Rp 24,95 triliun atau 5,51 persen dari nilai aset industri pembiayaan. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:ekonomi,