Kajian Islam Hadir di Universitas Katolik Leuven

Kajian Islam Hadir di Universitas Katolik Leuven

Katholieke Universiteit Leuven.

London  - Pemerintah Indonesia dan Katholieke Universiteit Leuven (KUL) mengalang kerja sama dengan penandatanganan nota kesepahaman mengenai program S2 Kajian Islam yang disusun oleh akademisi Indonesia.

Penandatangani kerjasama tersebut dilakukan Pemerintah Indonesia dan Katholieke Universiteit Leuven (KUL) yang diwakili Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA dan Rektor KUL Prof. Rik Torfs di kota Leuven, Belgia, demikian menurut Counsellor KBRI Brusel Riaz J.P. Saehu di London, Jumat (13/3/2015).

Universitas KUL adalah universitas yang meraih peringkat ke-13 dari 100 universitas terbaik di Eropa versi The Times Higher Education World University Rankings 2014 - 2015.

Universitas di kota Leuven, Belgia itu dikenal dengan penyusunan program dengan konsep dan karakter yang khas.

Selama dua pekan pada bulan April 2014 lalu, Direktur Paskasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta Prof Azyumardi Azra memberikan kajian dan saran bagi penyempurnaan konsep penyelenggaraan Program S2 Kajian Islam di Fakultas Teologi dan Kajian Agama di KUL.

Selain mengkaji sumber belajar dan jaringan kerjasama, Azyumardi juga mengkaji dukungan tenaga pengajar ke universitas tersebut.

Kuasa Usaha ad Interim (KUAI) KBRI Brussel Ignacio Kristanyo Hardojo mengatakan kerjasama itu tidak lepas dari upaya bersama KBRI Brussel dan Kementerian Agama RI sejak 2012. 

"Tujuannya agar Indonesia terlibat aktif dalam mengembangkan pengertian yang lebih baik dan lebih akurat tentang moderasi Islam dan masyarakat Muslim kepada masyarakat Belgia khususnya, masyarakat Eropa," ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Prof. Dr. Phil Kamaruddin Amin mengatakan dengan adanya Program S2 Kajian Islam di KUL, akademisi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Indonesia dapat menjadi tenaga pengajar di universitas tersebut dan secara tidak langsung mengangkat posisi Indonesia sebagai negara demokrasi dengan masyarakat Muslim terbesar di dunia.

Kerja sama itu juga diharapkan dapat menjawab tantangan sosial yang dihadapi masyarakat Muslim di beberapa negara anggota Uni Eropa yang saat ini mengalami peningkatan diskriminasi dan rasisme serta meningkatkan rasa saling menghargai antara komunitas beragama melalui dialog antar agama yang lebih implementatif di tingkat akar rumput.

Rektor KUL Prof. Rik Torfs dan Dekan Fakultas Teologi dan Kajian Agama Prof. Mathijs Lamberigts mengharapkan Indonesia dapat membantu Eropa dalam proses kontekstualisasi dan indigenisasi Islam di Eropa, sehingga Islam tidak lagi merupakan sesuatu hal yang "diimpor" dari tempat lain dan asing bagi masyarakat Eropa. 

Sementara itu KUAI KBRI Brussel Ignacio Kristanyo Hardojo mengatakan Indonesia mengharapkan program S2 Kajian Islam yang didukung akademisi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Indonesia dapat membuka wawasan intelektual, pemahaman dan praktek keislaman yang moderat dan toleran di kalangan generasi muda di Eropa. 

Ignacio menyebut secara tidak langsung Indonesia terlibat dalam upaya deradikalisasi dan senantiasa mendorong pemberdayaan kaum moderat dalam jangka panjang, sebagaimana yang diupayakan Pemerintah Indonesia selama ini. (AY)

.

Categories:Internasional,