Polisi Periksa 15 Orang Terkait Tewasnya 18 Penambang Liar di Bengkayang

Polisi Periksa 15 Orang Terkait Tewasnya 18 Penambang Liar di Bengkayang

Penambang Emas Liar. (Foto: Net)

Pontianak – Sedikitnya 15 orang saksi sudah diperiksa petugas Polresta Singkawang, Polda Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (08/10/2014), terkait tewasnya 18 penambang dan pendulang di tambang emas tanpa izin di Menterado, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (04/10/2014) lalu.

Kapolda Kalbar Brigjen Pol. Arief Sulistianto, membenarkan pemeriksaan yang telah dilakukan Polresta Singkawang tersebut.

"Sore ini kemungkinan besar sudah ada tersangka dalam kasus tersebut," kata Arief Sulistianto di Pontianak.Para saksi yang diperiksa, di antaranya keluarga korban, karyawan dan Distamben, Bina Marga Kota Singkawang, serta pemilik dompeng berinisial Tl, katanya.Arief menjelaskan pihaknya kini sudah mengamankan tiga set mesin dompeng yang digunakan untuk menyedot air dan menyemprot pasir yang akan didulang."Kami hingga saat ini terus mengumpulkan alat bukti untuk mengungkap siapa pemodal besar Peti di wilayah tersebut.

Bahkan kejadian ini menjadi momentum untuk melakukan pemberantasan Peti di seluruh Kalbar," ujarnya.Arief menambahkan sasaran Polda Kalbar saat ini bukan masyarakat yang bekerja di lokasi, tetapi aktor intelektualnya."Sebenarnya Mereka (masyarakat) mendulang hanya untuk peruntungan, karena belum tentu dalam sehari mereka mendapatkan hasilnya. Masyarakat setempat bertanam karet, namun karena harga karet anjlok hingga Rp6 ribu /kilogram, masyarakat akhirnya mencari tambahan lain untuk mencukupi penghidupan mereka," ungkap Arief.Sebelumnya, Direktur Binmas Polda Kalbar Kombes (Pol) Suhadi SW menyatakan pemilik mesin dompeng tersebut atas nama Suwarni alias Pak Tole, yakni warga Desa Goa Boma, Kecamatan Monterado, Kabupaten Bengkayang. Sedangkan pemilik tanah atas nama Jaliman warga Desa Sagatani, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang," ungkap Suhadi.Karyawan dari pemilik dompeng Pak Tole yang meninggal sebanyak dua orang, dan sisanya adalah masyarakat setempat yang bekerja sebagai pendulang. Cara masyarakat mendulang emas dengan mencangkul tanah yang mengandung emas, kemudian tanah tersebut didulang di air dengan cara diayak.

Dari pengakuan beberapa tokoh masyarakat, lokasi kejadian bukanlah masuk wilayah Desa Goa Boma, tetapi masuk Desa Sagatani, Singkawang Selatan.Ke-18 orang korban tewas tersebut, yakni Okta, kemudian Riski, Ono dari Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Pontianak, Ayub dari Kabupaten Sekdau, Pepen, Markus dari Kecamatan Capkala, Ipeng, Rio, Mak inah, Muri, Utuk, Azis, Joni, Dedeng, Agus, anak Joni, Imus, dan Long dari Kecamatan Goa Boma, Kabupaten Bengkayang. (AY)

.

Categories:Nasional,
Tags:nasional,