Patung Bekantan Jangan Dinilai Sebagai Berhala

Patung Bekantan Jangan Dinilai Sebagai Berhala

Ilustrasi.(Foto:Net)

Banjarmasin  - Seorang pemerhati kehidupan bekantan (nasalis larvatus), Akhmad Arifin meminta masyarakat Kalimantan Selatan menyambut baik rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin membangunkan patung bekantan setinggi delapan meter.

"Patung bekantan adalah bentuk kebanggaan kita adanya satwa unik ini di wilayah ini, makanya keberadaan patung jangan dinilai sebagai berhala," kata Akhmad Arifin yang juga dikenal sebagai pemandu wisata tersebut di Banjarmasin, Jumat (20/3/2015).

Menurut dia, berhala berarti tak ada ujud nyata, sementara bekantan kan ada binatangnya dan menjadi maskot Kalsel lagi, dan wajar keberadaan satwa endemik Kalimantan tersebut dipublikasikan melalui sebuah patung.

"Saya menilai keberadaan patung itu akan menjadi ikon Kota Banjarmasin dan akan menjadi kebanggaan," katanya, seraya menyebutkan di berbagai kota lain juga mengabadikan binatang khas setempat melalui patung dan itu warganya mendukung saja.

Lihat saja Surabaya dengan patung buayanya, Kalimantan Tengah dengan patung orangutannya, Amuntai dengan patung itik, Samarinda dengan patung enggang dan banyak kota lainnya, bahkan Singapura terkenal dengan patung singanya.

"Kita yang memiliki satwa unik berhidung panjang bekantan itu wajarlah pula mengabadikannya melalui patung dan diyakini akan menjadi magnet kepariwisataan," ujarnya.

Sementara itu sebelumnya kelompok pecinta lingkungan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) juga memberikan apresiasi terhadap rencana pembangunan patung Bekantan di kawasan jalan Pier Tendean Banjarmasin tersebut.

Organisasi pegiat lingkungan dan konservasi ini melalui ketuanya Amalia Rezeki mengatakan sudah 25 tahun sejak ditetapkannya Bekantan (Nasalis larvatus) sebagai maskot kebanggaan warga Kalimantan Selatan oleh Gubernur Kalimantan Selatan melalui persetujuan DPRD tanggal 28 Maret 1990.

Oleh karena itu SBI sangat menantikan sentuhan dari pemerintah daerah terhadap upaya pelestarian primata endemik Kalimantan tersebut, dan baru sekarang direspon secara positif oleh pemerintah daerah, melalui pemerintah Kota Banjarmasin dengan akan mendirikan patung bekantan sebagai sarana wisata dan identitas ibu kota provinsi ini.

"Kami menyambut positif pembangunan patung bekantan tersebut, sepanjang dengan tujuan sebagai identitas ibu kota Banjarmasin, dan upaya pengembangan pariwisata daerah, sarana pendidikan serta pelestarian bekantan yang merupakan primata endemik yang saat ini keberadaannya terancam punah, apalagi SBI sekarang mencanangkan Visit South Borneo 2015, Welcome To The Island Of Bekantan," jelas Amalia Rezeki.

Amalia Rezeki yang juga dikenal sebagai dosen program studi pendidikan biologi Universitas Lambung Mangkurat tersebut mengatakan, dari sudut pandang konservasi pelestarian bekantan, pembangunan patung bekantan ini bisa dijadikan sarana pendidikan.

Dengan adanya patung bekantan diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan dan kepedulian warga kota terhadap maskotnya yang saat ini masuk dalam daftar merah lembaga konservasi dunia, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) sebagai satwa yang terancam punah serta termasuk Appendix I pada CITES yang mendapat perhatian tinggi dalam upaya konservasi. 

Di Indonesia sendiri memasukan bekantan sebagai satwa yang dilindungi melalui PP No 7 tahun 1999 serta dijadikan program utama Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Bekantan 2013 - 2022, ujarnya.(Ode)**

.

Categories:Daerah,
Tags:daerah,