Jangan Benturkan Agama dengan Negara

Jangan Benturkan Agama dengan Negara

KH Hasyim Muzadi .(Foto:Net)

Jakarta - Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Hasyim Muzadi mengingatkan pentingnya sikap untuk tidak membenturkan agama dengan negara atau negara menabrak agama.

"Sebagaimana dijelaskan pemikir Islam Imam Ghazali, agama dan negara itu saudara kembar. Agama sebagai fondasi dan pemimpin negara sebagai penjaga," kata KH Hasyim sebagaimana dikutip tokoh muda NU yang juga Wakil Ketua Pengurus Cabang NU Jember, KH Misbahus Salam kepada pers di Jakarta, Minggu (22/3/2015).

Menurut KH Misbah, Rais Syuriyah PBNU yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Depok dan Malang itu mengemukakan keterangan tersebut pada peringatan dan tasyakuran berdirinya Negara Karaton Jogjakarta Haniningrat ke-268 di Yogyakarta yang dihadiri ribuan warga setempat pada 20 Maret 2015.

Dalam acara tersebut KH Hasyim lebih lanjut mengemukakan, perang yang terjadi di Indonesia pada masa lalu bukan merupakan perang antar agama atau benturan antara agama dengan negara, tetapi perang antar kekuasaan kerajaan dan perang antara para pejuang Nusantara dengan penjajah Belanda.

Rais Syuriah PBNU juga menekankan bahwa agama, negara, dan budaya memiliki posisi yang sangat penting dalam membangun karakter bangsa. Indonesia memiliki banyak agama, budaya, adat istiadat yang berbeda. Kondisi tersebut jangan sampai menyebabkan terjadinya konflik horizontal di tengah masyarakat.

Ia mengemukakan, Islam yang diperjuangkan wali songo, para raja Islam, dan para ulama di Nusantara juga tidak bersifat formalistik, melainkan murni substantif. Misalnya Raden Jafar Shadiq di Kudus membuat Masjid yang pinggirnya hampir sama dengan bentuk Pura. Bahkan karena umat Hindu memuliakan sapi, maka saat Idul Qurban umat Islam dianjurkan berkurban dengan kerbau.

Para wanita muslimah di Nusantara juga tidak memakai cadar, karena kondisi alam Indonesia berbeda dengan Arab. Perempuan Arab memakai cadar sebab kondisi alamnya berdebu dan sangat panas. Selain itu, dalam hal seni, kalau di Arab memakai rebana, sedangkan di Jawa menggunakan gong.

KH Hasyim mengingatkan pula pentingnya rujukan Piagam Madinah yang dibuat Nabi Muhammad dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Piagam itu menekankan pentingnya persaudaraan sesama Muslim, sementara terhadap orang yang berbeda aqidah dan syariah berlaku sikap "lakum diinukum waliyadiin" (untukmu agamamu dan untukku agamaku).

Piagam itu menyebutkan pula bahwa seluruh elemen masyarakat, baik agama maupun suku dan golongan yang ada di Madinah harus saling tolong menolong dan harus mempertahankan negara dari serangan pihak luar, sehingga religiusitas dan nasionalisme harus menjadi pijakan dalam berbangsa dan bernegara.

"Rahmannya Allah akan diberikan kepada negara yang menegakkan keadilan dan menjauhi kedhaliman," kata KH Hasyim sebagaimana dikutip KH Misbah sambil menambahkan bahwa tasyakuran berdirinya Negara Karaton Jogjakarta Haniningrat ke-268 juga dimeriahkan dengan khatmil Quran, tahlil, dan doa bersama. (AY)

.

Categories:Nasional,