Rupiah Terpuruk, Utang Indonesia Tambah 5 Persen

Rupiah Terpuruk, Utang Indonesia Tambah 5 Persen

Anggota Komisi XI DPR RI H Willgo Zainar

Mataram  - Anggota Komisi XI DPR RI H Willgo Zainar mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi hingga saat ini menambah nilai utang luar negeri Indonesia sebesar lima persen.

"Saya tidak ingat pasti berapa total utang Indonesia saat ini. Namun, yang jelas dengan nilai jual Rp 13.000 per dolar AS, atau lebih tinggi dari dari target APBN sebesar Rp 12.500 perdolar AS, utang Indonesia bertambah sekitar lima persen," katanya di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (22/3).

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat sore (20/3), bergerak melemah sebesar 80 poin menjadi Rp 13.115 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 13.035 per dolar AS. Utang luar negeri Indonesia juga mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, karena pengembalian utang tentu menggunakan mata uang dolar AS.

Menurut Willgo, dari beberapa rencana pembiayaan infrastruktur yang pasti diharapkan dari utang luar negeri. Namun, jika memang harus mengandalkan utang luar negeri, pihaknya berharap ada suatu penetapan harga terhadap konversi rupiah terhadap dolar AS. Sehingga ketika mengangsur pembayaran utang luar negeri Indonesia tidak mengalami fluktuasi, yang berdampak seperti saat ini. "Sekarang ini ekonomi Indonesia tertekan," ujarnya.

Ia mengatakan, pemerintah Indonesia bisa saja tidak menambah utang luar negeri untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Caranya dengan melakukan penjualan obligasi pemerintah, seperti sukuk ritel dan sebagainya.

Dengan begitu, pemerintah memperoleh dana dalam bentuk rupiah dengan harga yang relatif lebih aman dari masyarakat secara nasional. "Kalau dana yang dihimpun masyarakat relatif besar, tidak perlu melakukan pinjaman ke luar negeri," katanya. 

Pemerintah Indonesia kembali melakukan penjualan surat berharga di pasar perdana pada 2015 sebagai agen penjual surat berharga syariah negara. Yaitu sukuk negara ritel seri SR-007, sebagai salah satu instrumen menghimpun dana untuk pembiayaan pembangunan.

Penjualan sukuk negara ritel seri SR-007 itu dilakukan melalui sejumlah bank badan usaha milik negara (BUMN) dan swasta di dalam negeri.

Sedangkan penawaran investasi sukuk negara ritel seri SR-007 ini merupakan peluang yang sangat menarik, karena terdapat beberapa keuntungan. Di antaranya pembayaran imbalan/kupon dan nilai nominal sukuk negara ritel seri SR-007 dijamin oleh Undang-Undang (UU) Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) setiap tahunnya, sehingga tidak mempunyai risiko gagal bayar. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:jokowi,