Rupiah Menuju Keseimbangan Baru di Angka Rp 13.000/Dolar?

Rupiah Menuju Keseimbangan Baru di Angka Rp 13.000/Dolar?

Ilustrasi.(Foto:Net)

Jakarta - Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih di sekitar Rp13 ribuan setelah pemerintah pada pertengahan Maret lalu mengeluarkan paket kebijakan untuk memperbaiki kinerja perekonomian demi menstabilkan nilai tukar rupiah.

Apakah rupiah memang sedang menuju keseimbangan baru? Dalam Undang-Undang tentang Perubahan atas UU tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2015, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditetapkan sebesar Rp12.500,00.

Sementara itu, masukan Bank Indonesia (BI) untuk asumsi nilai tukar dalam UU tentang Perubahan atas UU APBN TA 2015--lebih populer dengan singkatan APBN-P 2015--itu berkisar Rp12.400,00--Rp12.900,00.

Deputi Gubernur BI Perry Warjoyo dalam suatu diskusi di Bintan, Kepulauan Riau, pada akhir bulan lalu, mengatakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi perekonomian global maupun domestik.

Dari sisi global, respons terhadap perkiraan membaiknya perekonomian AS memperkuat menguatnya dolar AS, sementara dari dalam negeri, defisit transaksi neraca berjalan yang besar serta isu-isu yang menyertai utang luar negeri dan ketersediaan cadangan devisa memberi sentimen negatif di pasar uang.

Nilai tukar rupiah, kata Perry, saat ini di bawah nilai semestinya. Ini terlihat dari angka nilai tukar riil efektif (real effective exchange rate/REER) rupiah, yang saat ini sebesar 97.

Nilai REER diperoleh dari penghitungan mata uang tertentu terhadap mata uang negara lain, di antaranya mitra dagang. Angka REER di bawah 100 menunjukkan nilai mata uang yang ada di bawah nilai semestinya atau "undervalue".

Menurut Perry, meski nilai rupiah sedikit "undervalue", justru relatif kompetitif. Artinya, ada kesesuaian dengan fundamental, tetapi juga relatif cukup kompetitif mendorong ekspor dan mengurangi impor.

Keseimbangan Baru Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati memproyeksikan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi akan kembali menuju ke level keseimbangan baru, yakni Rp12.500,00--Rp13.000,00 per dolar AS.

"Memang perkiraan kami rupiah ini akhirnya menjadi keseimbangan baru lagi. Jadi, kalau kemarin dalam APBN-P 2015 sebesar Rp12.500,00 per dolar AS, nah, kemungkinan di atas itu keseimbangan barunya. Hitung-hitungan kami, sih, yang masih 'available' sekarang, ya, mestinya di atas Rp12.500,00. Akan tetapi, masih di bawah Rp13 ribu (per dolar AS)," kata Enny.

Menurut Enny, pelemahan nilai tukar rupiah pada level Rp12.500,00--Rp13.000,00 per dolar AS tidak akan menimbulkan efek psikologis yang berlebihan untuk pelaku usaha maupun juga masyarakat.

Namun, lanjut Enny, apabila kebijakan stimulus fiskal yang dikeluarkan pemerintah tidak efektif dan pemerintah tidak cukup berperan dalam memberikan berbagai macam stimulus, pelemahan rupiah akan sulit berhenti dan bisa jadi akan terus berlangsung sampai akhir tahun.

Enny menilai jika pemerintah tidak bisa mengendalikan nilai tukar rupiah, hal tersebut bisa memberikan citra negatif kepada pelaku pasar, yang berarti tidak akan ada kepercayaan lagi dan bisa menimbulkan masalah.

Selain itu, dia menilai persoalan lainnya, yakni dari eksternal, terutama terkait dengan kenaikan suku bunga yang diprediksi akan dilakukan oleh Bank Sentral Amerika The Fed pada semester kedua 2015.

Posisi Rupiah Ketika paket kebijakan diumumkan pemerintah pada hari Senin (16/3), berdasarkan catatan Antara, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin sore, bergerak melemah 45 poin menjadi Rp13.230,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.185,00 per dolar AS.

Namun, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan pada Selasa sore (17/3), bergerak menguat 45 poin menjadi Rp13.185,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.230,00 per dolar AS.

Penguatan terus terjadi. Pada Rabu sore (18/3) nilai tukar rupiah menguat 30 poin menjadi Rp13.150,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.180,00 per dolar AS. Dilanjutkan pada Kamis sore (19/3), rupiah menguat 120 poin menjadi Rp13.035,00 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.155,00 per dolar AS.

Namun, pada Jumat sore (20/3) rupiah melemah 80 poin menjadi Rp13.115,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.035,00 per dolar AS.

Penguatan kembali terjadi pada Senin sore (23/3). Rupiah menguat 85 poin menjadi Rp13.022,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.107,00 per dolar AS. Rupiah kembali menguat pada Selasa sore (24/3) sebesar 93 poin menjadi Rp12.929,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.022,00 per dolar AS.

Pada Rabu sore (25/3), nilai tukar rupiah melemah 69 poin menjadi Rp12.970,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp12.901,00 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada Kamis sore (26/3) sebesar 21 poin menjadi Rp12.991,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp12.970,00 per dolar AS.

Pelemahan berlanjut pada Jumat sore (27/3). Rupiah melemah 54 poin menjadi Rp13.044,00 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp12.990,00 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah, Senin sore (30/3), menguat tipis enam poin menjadi Rp13.059,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.065,00 per dolar AS. Penguatan juga terjadi pada Selasa sore (31/3) sebesar 12 poin menjadi Rp13.063,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.075,00 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada Rabu sore (1/4), kembali menguat 97 poin menjadi Rp12.976,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.073,00 per dolar AS. Kemudian, pada Kamis sore (2/3), menjelang liburan panjang, rupiah menguat sebesar 47 poin menjadi Rp13.001,00 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.048,00 per dolar AS.

"Gemas" Masih fluktuatifnya nilai rupiah, terutama terhadap dolar AS, membuat kalangan dunia usaha merasa "gemas".

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menginginkan pemerintah dapat mengerahkan berbagai upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

"Kami berharap pemerintah bisa menjaganya (nilai rupiah) sesuai dengan target yang ada dalam APBN-P 2015 yang dipatok sekitar Rp12.000,00--Rp12.500,00 per satu dolar AS," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto.

Ia minta pemerintah harus tetap memiliki pemahaman utuh dalam mengendalikan nilai rupiah. Pada intinya, lanjut dia, pelaku usaha menginginkan kurs rupiah yang stabil, tetapi harus ada kejelasan sampai di level berapa angka rupiah tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia minta agar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa direvisi untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang rupiah.

Menurut dia, revisi terhadap UU Lalin Devisa itu dinilai penting untuk menopang rupiah agar tetap perkasa dan berdaulat di dalam negeri. Pelemahan rupiah terus terulang sebab belum terdapat regulasi yang mampu memperkuat posisi rupiah selama ini. (AY)

.

Categories:Perbankan,
Tags:perbankan,