Divonis karena Chatting, Seorang Perempuan Ajukan Banding

Divonis karena Chatting, Seorang Perempuan Ajukan Banding

ilustrasi. (Net)

Bandung - Seorang perempuan (47) yang divonis lima bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung karena mengobrol atau chatting di jejaring sosial Facebook dengan teman masa kecilnya mengajukan banding atas vonis tersebut ke Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

"Hari ini kami resmi mengajukan banding atas putusan hakim tersebut," kata Kuasa Hukum Wisti Yetti (47), Suryantara, di Pengadilan Negeri Bandung, Senin (6/4/2015).

Perkara hukum yang menjerat Wisti bermula ketika mantan suaminya, Haska Etika, melaporkan mantan istrinya tersebut Ke Polda Jawa Barat atas tuduhan melakukan tindak asusila di media sosial yakni dari hasil percakapan Wisni dengan Nugraha Mursyid, teman Wisti sewaktu duduk di bangku SMP.

Ia mengatakan, alasan pihaknya mengajukan banding karena putusan hakim tersebut dinilai tidak mencerminkan keadilan dan tidak berdasarkan fakta-fakta persidangan yang ada.

"Alasan yang ketiga ialah putusan hakim itu jauh melampaui tuntutan jaksa. Saya kira tiga pokok itu yang akan kami tuangkan dalam memori banding," kata Suryantara.

Pihaknya berharap upaya banding di tingkat Pengadilan Tinggi Jawa Barat tersebut bisa membebaskan semua jeratan hukum terhadap kliennya.

"Harapannnya, hakim yang menangani perkara banding ini memang benar-benar mengerti persoalan hukum klien kami membebaskan dari segala dakwaan karena fakta persidangan tidak terbukti," kata dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan, sejumlah fakta persidangan yang tidak terbukti adalah bukti "chatting" di jejaring sosial kliennya dengan teman semasa kecilnya tidak didapatkan dengan cara yang benar secara hukum.

"Dan itu juga buktinya hanya berupa fotocopy-an saja. Kemudian uji forensik membuktikan bahwa tidak ada percakapan asusila dalam chatting di Facebook tersebut," kata dia.

Di tingkat Pengadilan Negeri Bandung Wisti Yetti, divonis dengan pidana penjara 5 bulan dan denda Rp100 juta subsider enam bulan karena melangar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Putusan tersebut jauh lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut Wisti dengan hukuman penjara 4 bulan denda Rp10 juta.

Sementara itu Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan terkait sejumlah kasus hukum yang berhubungan dengan UU ITE saat ini pihaknya sedang melakukan persiapan merivisi UU tersebut.

"Tahapannya sedang persiapan, kan ini baru masuk, reses baru selesai. Mudah-mudahan saya berharap akhir tahun selesai," kata Rudiantara, beberapa waktu lalu di Jawa Barat.

Pihaknya akan memperbaiki sejumlah pasal atau ayat yang menjadi kontroversi dalam undang-undang tersebut seperti Pasal 27 ayat 3. (AY)

.

Categories:Bandung,