Asia Afrika Kuasai 30 Persen Perekonomian Global

Asia Afrika Kuasai 30 Persen Perekonomian Global

Ilustrasi.(Foto:Net)

Jakarta Indonesia perlu mendorong negara-negara belum berkembang untuk menyusun daftar positif investasi. Rencana itu akan dituangkan dalam acara pertemuan bisnis Asia-Afrika, yang masih merupakan rangkaian Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 21 April mendatang, 
 
"Dengan demikian, investasi yang masuk dapat diarahkan kepada  sektor-sektor prioritas pembangunan,” kata Direktur Eksekutif Center of  Reform on Economics (CORE) Hendri Saparini di Jakarta, Minggu (19/4/2015).
 
Asia dan Afrika merupakan dua benua dengan pangsa pasar yang mewakili 75 persen penduduk di dunia. Akumulasi PDB Asia Afrika mewakili 30 persen dari PDB dunia atau 21 triliun dolar AS. Negara-negara Asia dan Afrika juga banyak yang mewakili perekonomian raksasa di dunia, seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Indonesia.
 
Kedua benua itu, berkontribusi 42,18 persen dari total ekspor dunia atau 7.581 miliar dolar AS dan 41,72 persen dari total impor dunia atau 7.803 miliar dolar AS. Sedangkan UNCTAD mencatat, arus masuk investasi langsung asing di Asia Afrika mencatat angka yang terus bertumbuh yakni mencapai 426 juta dolar AS di Asia dan 57 juta dolar AS di Afrika. Sedangkan untuk arus keluar investasinya masing-masing 326 juta dolar AS dan 12 juta dolar AS.
 
Disebutkan, Asia Afrika juga merupakan kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di dunia sepanjang satu dekade terakhir dengan persentase sekitar 5 persen, atau jauh melampaui rata-rata perkembangan produksi bruto di level global.
 
Model perekonomian kedua benua itu kini makin terdiversifikasi, dan tidak lagi bergantung pada ekspor komoditas dan pertanian sebagaimana layaknya negara tertinggal. Afrika mulanya memang mengandalkan ekspor dari sektor pertambangan, mengingat sepertiga dari kandungan mineral dunia berada di kawasan itu.
 
Namun, saat harga tembaga, bijih besi, dan komoditas lain jatuh pada akhir tahun lalu, produk domestik bruto di Afrika tetap tumbuh dalam level yang sama seperti sebelumnya. Sebagaimana dicatat oleh majalah The Economist pada Januari, kunci penjelasannya terletak pada makin besarnya kontribusi dari sektor-sektor lain, seperti manufaktur, pariwisata, dan jasa. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,