Film Karya Lucky Kuswandi Lolos ke Cannes 2015

Film Karya Lucky Kuswandi Lolos ke Cannes 2015

salah satu adegan film "The Fox Exploits The Tiger's Might"

Jakarta-Film terbaru karya Lucky Kuswandi, "The Fox Exploits The Tiger's Might", terpilih untuk berkompetisi di La Semaine de La Critique, Cannes, sebagai film pertama Indonesia di forum itu yang masuk seleksi sesudah Tjoet Nja Dhien di tahun 1989.
 
Film pendek ini merupakan satu dari 10 film yang dipilih oleh para kritikus film Prancis dari 1.750 film yang diajukan untuk diputar dan dikompetisikan di La Semaine de La Critique atau "Pekan Kritikus" di Cannes 2015 yang akan berlangsung 14 hingga 22 Mei mendatang.
 
Pekan Kritikus itu juga akan memutar 11 film panjang yang dipilih dari 1.100 karya dari berbagai penjuru dunia, dengan tujuh di antaranya masuk kompetisi.

Karya inovatif

"La Semaine de La Critique" adalah salah satu festival independen terpenting yang diselenggarakan berbarengan dengan Festival Cannes pada setiap bulan Mei. Satunya lagi adalah Quinzaine des Realisateurs atau Directors Fortnight.
 
Pekan Kritikus mulai diselenggarakan tahun 1962 oleh serikat kritikus dan jurnalis Prancis, yang menganggap Festival Cannes sudah terlalu mapan dan berorientasi hanya pada nama-nama besar dan sudah mengabaikan pencapaian artistik. Beberapa tahun kemudian langkah ini diikuti oleh serikat sutradara Prancis yang menyelenggarakan Quinzaine des Realisateurs.
Kedua festival independen ini didedikasikan pada karya-karya inovatif, diselenggarakan berbarengan dengan dan bahkan cenderung diintegrasikan dengan Festival Film Internasional Cannes. Film-film yang berkompetisi di La Semaine dan Quinzaine juga berkompetisi untuk kategori-kategori tertentu Festival Cannes, seperti Camera d'or untuk film pertama terbaik.

Kekuasaan dan seksualitas

Komite Film Pendek "La Semaine de La Critique", Fabien Gaffez, menyebut film karya Lucky Kuswandi "bermain-main antara permainan yang menikmatkan dengan kenikmatan yang jalang."
 
Adapun Lucky Kuswandi, yang tak menyembunyikan kegirangannya mengatakan, bahwa film terbarunya ini “memberikan saya keleluasaan dalam membicarakan tema kekuasaan dan seksualitas secara terbuka, jujur dan dewasa."
 
Lucky menambahkan, "keleluasaan tanpa penyensoran diri maupun penyensoran dari berbagai lembaga dalam eksplorasi karya seni ini ternyata malah membuahkan prestasi yang bisa dibanggakan oleh dunia internasional.’’
 
Memang The Fox Exploits The Tiger's Might adalah karya 25 menit yang menumpukkkan kekuatannya pada saling sengkarut tema antara seksualitas dan kekuasaan, eksploitasi militer yang superior terhadap minoritas Cina yang inferior secara politik, berkelindang dengan eksplorasi seksual para tokohnya.
Film ini adalah karya Indonesia kedua yang berkompetisi di La Semaine de La Critique, sesudah Tjoet Nja Dhien karya Eros Djarot di tahun 1989.
 
"The Fox Exploits The Tiger's Might", antara lain dibintangi Surya Saputra, merupakan produksi kerja sama Babi Buta Film dengan Hivos Asia Hub dan Yayasan Cipta Citra Indonesia.

Mengalami kemanusiaan

Film ini merupakan satu dari tiga film hasil kerja sama ini. Dua yang lain adalah Kisah Cinta Yang Asu (penulis dan sutradara Yosep Anggi Noen); dan Sendiri Diana Sendiri (penulis dan sutradara Kamila Andini).
 
Ketiga film ini diproduseri oleh Meiske Taurisia, Edwin dan Tunggal Pawestri. Kolaborasi ini dibangun sebagai undangan untuk “Mengalami Kemanusiaan”; yang menurut Edwin, produser dan satu-satunya sutradara Indonesia yang filmnya pernah masuk kompetisi film internasional utama di Berlin 2013, "sebuah ajakan yang memperkaya pengalaman kita akan kemanusiaan dan mengingat terus apa rasanya menjadi manusia, terutama ketika banyak hal sekarang ini yang menjauhkan kita dari memori tersebut."
 
"Salah satunya istilah SARA; Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan," tambah produser Tunggal Pawestri dari HIVOS.
"Yang diciptakan Negara pada masa Orde Baru circa 1974 untuk membatasi perspektif masyarakat akan kemajemukan manusia. Tanpa kita sadari, SARA sedang atau telah mengalami pemutakhiran menjadi SARA(S); SARA plus Seksualitas. Manusia dibuat terlihat makin generik, makin seragam." seperti dilansir BBC. (Ode)*
.

Categories:Film,
Tags:,