Indira Kowar Berbagi lewat Sekolah Model dan Buku

Indira Kowar Berbagi lewat Sekolah Model dan Buku

Indira Kowar (tengah Saat Berkunjung Ke redaksi Cikalnews. (istimewa)

SMART, supel, dan komunikatif. Kesan itulah yang tertangkap ketika Indira Kowar menginjakkan kakinya di kantor Redaksi CikalNews.com. Optimisme ini pula yang menghantarkan bincang Ngopi Sore bersamanya terasa hangat, mengalir dan penuh keakraban. 
 
Di tengah lilitan kesibukan yang cukup tinggi, perempuan berdarah Sunda kelahiran Bogor, 16 Februari 1980  itu mampu berbagi pengalamannya yang cukup padat dan menarik. Bayangkan, berlatar belakang pendidikan Sanitasi Lingkungan lingkup Departemen Kesehatan RI, Indira yang akrab disapa Indie ini tiba-tiba memutuskan untuk menekuni dunia modeling. Dunia yang pada akhirnya menjadi tempat untuk lebih banyak mengembangkan diri. Bahkan, kemudian memberi firus kepada generasi berikutnya. 
 
 
Tahun 1998 di Kota Bandung, ketika Indira mulai menemukan peforma sesungguhnya di dunia modeling, dia justru ditentang oleh keluarganya untuk tidak menggeluti dunia, yang memiliki rentang karier yang pendek. Kian ditentang, justru Indira kian bergejolak, ada janji yang tak terungkap untuk membuktikan kekhawatiran orangtuanya, dan mungkin bagi banyak orangtua lainnya yang tidak terlalu percaya pada profesi model. Ya, Betapa tidak, ada sebagian image yang terlanjur merebak, kalau menjadi model itu identik dengan hal-hal yang dipandang cenderung negatif. 
 
Stigma itulah yang kemudian harus bisa dibuktikan, bahwa apakah benar menjadi model selalu negatif? Untuk menjawabnya dengan satu kata tentu sulit, butuh waktu untuk membuktikannya, karena semua akan kembali kepada pribadi masing-masing. Namun, suara batin Indira justru tampaknya kian menari-nari ingin segera membuktikannya. 
 
Seiring dengan waktu, Indira pun seakan tak pernah puas untuk menggali dan mengasah ilmu yang sudah mulai membuatnya jatuh hati pada profesi dunia modeling. Berburu ilmu pun terus ditimbanya. Antara lain dengan mengikuti berbagai kursus, yang pilihannya jatuh pada OQ Modelling School. Lalu memperdalamnya pada Sekolah Broadcasting milik penyiar televisi senior di Jakarta. Perpaduan yang tidak terlalu berseberangan, karena semuanya yakni tampil di depan khalayak dengan keilmuan dan pengalaman yang berbeda.
 
Hobi membaca buku sejak kecil pun ternyata membuahkan hasil,  yang bisa dibanggakan di kemudian hari. Mampu menuangkan ide-ide melalui referensi ribuan buku yang sudah dilumatnya. Namun, bagi perempuan muda menarik ini paling berkesan adalah saat menggeluti dunia keperagawatian. Dunia yang kemudian mengantarkannya menjadi profesi. Sadar profesi itu tidak panjang, dia banting setir untuk berlakon di balik layar. Jadilah pengajar dan mendirikan sekolah modeling.
 
 
 

"Aku seperti menemukan duniaku bila sudah berada di atas catwalk. Dunia panggung ternyata lebih berwarna dan menantang imajinasiku. Kenapa tidak? Justru di situ magnetnya, aku kemudian bisa menurunkan atau mewariskan pada yang muda-muda, bahwa tidak benar profesi model itu selalu negatif," katanya yakin. 

 
Obsesi ini pula  dia buktikan kepada kedua orangtuanya, ketika Indira bekerja di sebuah rumah fesyen terkenal di Bandung. Lalu dia pun dikontrak sebuah biro iklan serta wajahnya terpangpang di berbagai media cetak. Pembuktian yang manis, belakangan orangtua atau keluarganya berbalik untuk mendukung kariernya sebagai model 100 persen. Ketika dia mendirikan sekolah model FamoSchool.
 
Ilmu akan bermanfaat jika diamalkan. Pengalaman demi pengalaman silih berganti. Sayang jika tidak didokumentasikan. Dekade satu episode Indira terlintas menelurkan buku karena membaca adalah hobi, maka referensi pun kian penuh jika dibukukan. Hanya selang 10 tahun, Indira berbagi pengalaman lewat buku menarik "What Model Needs". Buku ini pantas diberikan kepada mereka yang ingin menginjakkan kaki di dunia modeling pemula.

 
Kepada Cepi Juniar Djatnika (Pemred CikalNews.com) dan Wa Ode Ratna Djuwita (Redaktur CikalNews.com) dalam acara Ngopi Sore (Ngopsor), Indira berbagi pengalamannya di dunia yang telah membawanya ke jenjang kebanggaannya selama ini. Ya, siapa yang tak bangga bisa menjadi model terkenal di kemudian hari? Berlenggang-lenggok di atas catwalk dengan mengenakan baju mahal dan harum. Banyak uang dan dikenal masyarakat. Dunia seperti itu ibaratnya hanya dalam genggaman. Untuk mengetahui bagaimana perjalanan Indira Kowar dalam menemukan dunianya, berikut petikan wawancaranya. 
 
CikalNews (CN): Wah menarik ya perjalanan hidupnya, tapi bagaimana dengan latar belakang keilmuannya selama ini, apakah masih dipakai dalam karier? 
 
Indira Kowar (Indira): Latar belakang keilmuan formal saya sama sekali bertolak belakang dengan bidang yang ditekuni sekarang ini. Namun saya berterima kasih, ama pendidikan yang pernah saya geluti. Paling tidak telah memberi saya motivasi, membuka cakrawala berpikir saya untuk bisa berkembang meski kemudian di bidang lain. 
 
Siapa yang bisa menduga garis tangan seseorang, rasanya hanya Tuhan yang bisa menentukan arah kehidupan seseorang. Menjadi model, kemudian pengajar dan jadi presenter serta dunia entertaint lainnya adalah sebuah obsesi. Hidup ini butuh mimpi, dan obsesi adalah titian untuk menapaki pencapaian yang diinginkan. Ini butuh ilmu, pengalaman, dan obsesi sebagai drive diri kita ke depan. 
 
CNSeberapa yakin sih dengan menelurkan banyak calon model, untuk bisa membuat mereka sukses seperti Anda Indira?
 
Indira: Yakin bisa sukses, sebagai pengajar tugas saya adalah mengubah dan meyakinkan diri mereka untuk menjadi seseorang. Kalau orang tersebut memiliki passion di dunia model dan entertaint, saya yakin dia akan besar dari profesi model yang digelutinya. Bahkan, mungkin akan mengalahkan gurunya. Enggak apa-apa, pendidikan adalah tempat menggodok seseorang atau mencetak seseorang, untuk menjadi sesuatu sesuai keinginan atau tidak. Jika perlu from zero to hero bisa dibuktikan. 
 
Sebagai pengajar di sekolah modeling, saya suka yakin akan kemampuan seseorang. Itu dasar yang perlu dibekali bagi setiap pendidik. Sekolah adalah benteng dan tempat menimba etika keprofesionalan. Silakan kembangkan.
 
CN: Anda juga mendirikan sekolah modeling FamoSchool setelah mengajar di tempat lain, ada alasannya?
 
Indira: Ya saya pikir inilah saat yang tempat untuk berbagi yang sesungguhnya. Setelah malang melintang ngajar di tempat lain, saya beranikan diri untuk membangun sekolah modeling ini. Awalnya berdiri di Jl. Ahmad Yani 136 Bandung, dan kini di BTC Fashion Mall Pasteur Bandung. Sekolah ini berdiri karena alasan yang kuat atas kecintaan saya terhadap dunia modeling. Tekad saya akan terus berbagi lewat sekolah ini demi membagi ilmu kepada generasi muda, dalam rangka memiliki pilihan hidup. Saya yakin ko, rezeki dan ilmu tidak hanya didapat dari pendidikan formal. 
 
 
CN: Sejauh ini apakah sudah puas dengan pencapaian yang telah Anda lakukan selama ini? 
 
Indira: Pertanyaan menarik. Tetapi mana ada yang puas? Jangan pernah puas dengan apa yang sudah dilakukan. Justru dalam menerapkan hal jangan cepat puas, sehingga akan muncul talenta dalam diri kita yang kelak ternyata berbalik memberi kehidupan yang lebih baik. Semua pekerjaan jangan pernah puas untuk menerimanya, agar kita terus berinovasi. Di dalam buku yang saya tulis "What Model Needs" banyak memberi cakrawala di dunia modeling. Mereka bisa mengembangkan diri setelah membaca buku yang saya tulis. 
 
CN: Tentang buku "What Model Needs", ko kepikiran mau nulis buku segala? Enggak mudah lho, apalagi Anda sendiri bukan public figure atau artis nasional? Buku yang segemented biasanyalebih  sulit untuk dipasarkan, mungkin ini tantangan ya? 
 
Indira: Iya juga, beribu tantangan yang datang, saya tak pernah gentar menghadapinya. Karena saya yakin akan mampu menghalaunya. Buku model seperti ini 20 tahun silam pernah ada, ditulis juga oleh model terkenal Ratih Sang. Dia juga presenter dan pemain film, tetapi basiknya adalah model yang lahir dari catwalk. 
Menabur ilmu, berbagi ilmu tidak perlu menyandang predikat artis dulu, lalu menulis buku. Sejauh untuk kebaikan, memiliki visi misi yang baik, kenapa tidak menulis buku? 
 
 
Basic saya suka membaca, oleh karenanya saya ingin berbagi dengan murid-murid saya lewat buku ini. Buku "What Model Needs" awalnya dibuat sebagai buku pegangan bagi para murid di FamoSchool (Sekolah Model Milik Indira - red), tetapi saya pikir kenapa tidak diperlebar dengan umum? 
 
Sebab, saya yakin di luar sana banyak yang ingin menjadi model tetapi mereka tidak tahu awalnya, caranya dan jalannya. Membaca buku ini secercah kehidupan baru bisa terkuak di depan mata. Karena akan dituntun apa saja persiapan bagi seseorang, sebelum terjun sebagai model. Ada baiknya juga dibaca oleh orangtua siswa agar kian memberi pemahaman yang baik untuk profesi seorang model. 
 
CN: Kalau gitu yakin banget ya dari profesi model bisa mengantarkan seseorang sebagai salah satu pilihan hidup di kemudian hari?
 
Indira: Mungkin saja ya, di mana ada kemauan di situ selalu ada jalan. Ini pameo kuno lho tetapi emang bener gitu dalam kenyataannya. Sekolah FamoSchool dan buku ini sebaiknya beriringan jalan, sehingga jembatan yang dibentang para model pemula yang ingin menekuni dunia entertaint dan khususnya modeling, bisa dibangun dengan baik. Pengalaman saya begitu, karena ternyata memiliki bakat modeling dapat dijadikan pekerjaan di kemudian hari. 
 
Lihatlah artis sinetron atau pemain film tidak sedikit di antara mereka yang berlatar atau lahir dari profesi model. Ini menandakan mereka bisa menjaga profesi, bahkan telah melangkah jauh ke depan. Menjadi artis itu enak, nama dikenal orang, uang pun mengalir deras. Tinggal bagaimana menjaga profesi agar orang lain tetap menghargai diri kita. Persaingan juga ketat, kalau tidak dipelihara dan dijaga bisa menguap. Karena pada akhirnya hanya model-model yang tangguh, bermental baja, konsisten dan juga menjaga keprofesionalannya yang bisa bertahan.
 
 
CN: Begitu menarik ya dunia modeling. Dari sekian banyak pengalaman, model catwalk, ilmu public speaking, presenter televisi, master of ceremony (MC), punya sekolah modeling, ada target yang ingin dicapai selain dunia model dan mengajar model?
 
Indira: Prinsip hidup saya sebenarnya sama seperti air mengalir, sesekali ada riak gelombang menerpa akibat semilir angin yang sesekali datang menghampiri. Setelah selama 10 tahun terjun dan menekuni dunia modeling, selama 10 tahun itu pula saya berpikir what next? Di kepala saya, tentu profesi yang belum adalah menjadi desainer  fesyen. Menarik kan? 
 
Masih dalam lingkaran dunia modeling. Tetapi saya juga belum tahu apakah akan beriringan dengan sekolah model yang saya dirikan ini, atau satu-satu dalam pencapaiannya. Ini masih dalam taraf mimpi saya ke depan. Belum tersentuh meski saya sering menyentuhnya dari hasil kreasi para desainer, atau perancang busana yang sudah kondang. Tetapi tetap menarik untuk dicapai hahahaha.
 
Juga saya ingin menulis buku hingga 4 episode jika yang beredar sekarang adalah basicnya, saya ingin hingga tahap akhirnya advance. Jadi masih ada tiga buku yang perlu saya wujudkan. Harus bisa. Cita-cita saya selain menulis buku hingga empat jilid, saya ingin punya sekolah FamoSchool ada di beberapa kota baik Jakarta, Bandung, Semarang, Tasikmalaya, Bali, ataupun kota-kota lainnya. 
 
CN: Dari sekian banyak pengalaman, bagaimana melihat animo kaum muda ini tertarik akan dunia model dan modeling? 
 
Indira: Saya mengajar di beberapa tempat, termasuk Jakarta, Bali, Bandung dan pernah juga di Singapura. Animonya bisa dibilang cukup tinggi, banyaknya murid yang dihadapi dan selalu optimis, meyakinkan pada diri saya bahwa dunia modeling tidak akan pernah mati. Dia hanya bisa datang dan pergi adalah orang-orangnya, karena termakan usia yang terbatas. 
 
Banyaknya fasilitas yang tersedia, seperti banyaknya media televisi justru kian memberi jalan untuk menekuni dunia modeling. Saran saya mungkin, jangan hanya mengandalkan tampang, tetapi selami dunianya dan pelajari ilmunya agar bisa merambah ke berbagai profesi. Ketersediaan fasilitas yang begitu terbuka, membuat banyak alternatif pilihan profesi keartisan di masa mendatang. Tinggal memelihara untuk menjaga profesi dengan sebaik-baiknya.
 
CN: Biasanya seseorang memiliki idola atau apalah namanya. Apa yang membedakan dunia model luar negeri dengan di Indonesia?
 
Indira: Idola adalah bentuk penghargaan akan keprofesionalan seseorang, bagi saya memiliki idola penting hanya tidak perlu berlebihan. Idola atau figur yang kita kagumi bisa menjadi teladan bagi seseorang. Idola saya adalah kedua orangtua, meski mereka sempat menentang pilihan saya menjadi model, tetapi saya tetap hormati dan kagumi sekaligus sayangi. 
 
Oh ya, soal model luar negeri pada prinsipnya sama, yang membedakan adalah budaya mereka dengan kita jelas ada. Mereka selain memiliki fisik yang tinggi juga berpengaruh pada perkembangan fesyen di negaranya yang cepat sekali berganti. Sehingga even modeling jauh lebih hidup. Di Indonesia, aktivitas modeling masih masih bisa dihitung dalam setahunnya. Kita punya kalender even besar seperti Jakarta  Fashion Week, Indonesia Fashion Week, yang mampu menghadirkan banyak aktivitis modeling.
 
Di Bandung juga ada tetapi masih sedikit, paling tampil di acara-acara pameran, atau ulang tahun organisasi para desainer. Sesungguhnya mall yang cukup banyak di Kota Bandung bisa menunjang terhadap perkembangan dunia fesyen. Tetapi kembali lagi pada perusahaannya, seberapa pentingkah mereka menggelar acara fashion show, karena akan berhubungan dengan profesi modeling. Sejauh ini masih saling membutuhkan.   
 
CN: Wah ngobrol dengan Indira tak terasa ya, semoga langkah dan niat baik Anda dilancarkan semuanya. Sukses ya ditunggu buku kedua, ketiga, dan keempat dan yang lainnya.
 
Indira: Terima kasih, betah kok ngobrol dengan wartawan, semoga CikalNews.com juga semakin banyak yang mengakses ya, dan satu hal banyak juga iklannya. (Ode/Jr.)**
 

Biodata:

Nama  Lengkap : NR Indira Saputri Suranegara
Nama Populer  : Indira Kowar
Nama Panggilan : Indie
Tempat tgl Lahir  : Bogor, 16 Februari 1980
Anak ke : Pertama dari dua bersaudara
Pendidikan  : Sanitasi Lingkungan Depkes RI
    OQ Modelling School
    Broadcasting School Trisna Sanubari Jakarta
Alamat   : Bandung Trade Center (BTC) Lantai GF Blok E 7 No. 9 Telp 022-93956868
 
 
Prestasi:  - Juara II Bakti Husada Jabar 1998
                 - Miss Sophie Martin 1998
                 - Miss Bintang Sajiku 2003
                 - Miss Point Break -2004 
                 - Presenter  Reality Show "Pemburu Hantu" Trans TV
                 - Host  IMTV acara tlkshow
                 - Host PJTV - acara talk show sampai sekarang
                 - Pengajar di Zema Modeling School, 
                 - Mengajar di SMAK 2 BPK Penabur
                 - Pengajar/pemilik FamoSchool sampai sekarang
                 - Model Bilabong dan Sajiku
                 - Dan lainnya
.

Categories:KopiSore,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait