Studi Kelayakan Tol Denpasar-Gilimanuk Mulai Digarap

Studi Kelayakan Tol Denpasar-Gilimanuk Mulai Digarap

Ilustrasi.(Foto:Net)

Denpasar - Sebuah studi kelayakan terkait dengan adanya rencana pembangunan mega proyek tol yang menghubungkan Bali Selatan dan Bali Utara melalui ruas Jalan Denpasar - Gilimanuk, mulai dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi (pemprov) Bali.
 
"Feasibility study (studi kelayakan) Tol Denpasar - Gilimanuk dimulai tahun ini. Ada tujuh titik yang akan kita bangun," kata Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta di Denpasar, Selasa (28/4).

Sudikerta mengemukakan, tujuh titik tersebut berada pada empat ruas tol meliputi Kuta-Canggu-Tanah Lot-Soka, Soka-Pekutatan, Pekutatan-Gilimanuk dan Pekutatan-Lovina.

Sementara PT Waskita Karya sebagai salah satu BUMN di Indonesia sebelumnya telah melaksanakan presentasi pra-studi kelayakan, di hadapan Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Pengembangan tol yang menghubungkan antara Bali Selatan dengan Bali Utara itu diharapkan memberikan dampak yang tinggi, khususnya bagi pertumbuhan ekonomi dan pemerataan di Pulau Dewata.

"Kami berharap, ini menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," kata mantan Wakil Bupati Badung itu.

Disebutkan, tol itu diprediksi memiliki panjang total sekitar  156,7 kilometer, dengan biaya pembangunan mencapai triliunan rupiah. Kontraktor itu sebelumnya telah melakukan survei guna melengkapi prastudi kelayakan. Antara lain difokuskan pada analisis perkembangan wilayah, proyeksi lalu lintas, pemilihan trase dengan tinjauan aspek lingkungan, biaya dan teknis, perkiraan biaya konstruksi, analisa ekonomi dan analisa finansial.

Untuk ruas Kuta-Canggu-Tanah Lot-Soka, Waskita Karya memberi tiga alternatif, yaitu trase 1 yang mengacu pada RTRW, trase 2 yang melewati pantai dan trase 3 dengan memanfaatkan alur sungai. 
 
Sementara untuk alternatif yang melewati sungai mendapat bobot tertinggi, dan secara ekonomis paling memungkinkan untuk digarap. Sebabj ika melewati pantai, biayanya mahal dan konstruksi tak bertahan lama, karena kuatnya arus Samudera Hindia. Sedangkan mengikuti jalur Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) terkendala pembebasan lahan. (Jr.)**
.

Categories:Daerah,
Tags:daerah,