Di Jabar, Pernikahan di Bawah Umur Cukup Tinggi

Di Jabar, Pernikahan di Bawah Umur Cukup Tinggi

Pernikahan muda atau usia dini sumbang kasus perceraian paling besar. (Foto : ADE/CikalNews)

Bandung – Peneliti BKKBN Jawa Barat menilai, pernikahan di bawah umur atau usia remaja di Jawa Barat terbilang cukup tinggi. Terbukti dengan adanya kasus pernikahan antara usia 16 tahun hingga 18 tahun yang mencapai angka 11 jutaan. Pada kasus itu, kaum perempuan terbilang lebih banyak dibanding kaum pria.

Menurut peneliti BKKBN Jawa Barat, Rindang Ekawati usia pernikahan di bawah umur bisa memicu meningkatnya perceraian di kalangan remaja dan usia produktif atau di bawah 30 tahun.

"Jika pernikahan di bawah umur yang berkisar di usia 16-18 tahun itu banyak, maka tingkat perceraian di Jawa Barat juga akan sebanding. Artinya, perceraian di Jawa Barat akan meningkat,  karena adanya kenaikan pernikahan di bawah umur,” jelas Rindang Ekawati di Gedung Sate, Jl. Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (29/04/2015).

Masih papar Rindang Ekawati, ada beberapa aspek yang bisa menyebabkan perceraian pada pernikahan di bawah umur dan pernikahan muda. Yakni aspek ekonomi, psikologis, dan kesehatan.

“Umumnya perceraian itu banyak disebabkan oleh tiga aspek itu, dan sampai saat ini factor perceraian untuk pasangan muda atau pernikahan dini kebanyakan karena factor ekonomi dan psikologis. Jika dua aspek ini tidak bisa dibenuhi, gesekan dalam rumah tangga pun sering terjadi,” paparnya.

Disebutkan, tingginya angka pernikahan dan perceraian bisa menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk di Jawa Barat. Ledakan penduduk bisa terjadi jika BKKBN belum bisa menjalankan program KB (Keluarga Berencana) secara efektif. “Orang yang umumnya sering melakukan pernikahan dan perceraian rata-rata jarang ikut program KB,” cetus Rindang Ekawati. (Jr.)**

.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,