AJI Tuntut Kesejahteraan Wartawan Ditingkatkan

 AJI Tuntut Kesejahteraan Wartawan Ditingkatkan

AJI Bandung tuntut media berikan upah layak pada jurnalis dan kontributor. (Foto : ADE/CikalNews)

Bandung - Memperingati hari buruh internasional atau May Day, AJI (Aliansi Jurnalis Independent) Bandung melakukan aksi bergabung dengan buruh lainnya, dengan menyerukan kesejahteraan nasib wartawan di depan Gedung Sate.
 
Berdasarkan pernyataan Ketua AJI Bandung, Adi Marcela, jurnalis adalah juga buruh jadi kita harus bersatu menyerukan nasib demi kesejahteraan. Banyaknya upah wartawan yang di bawah UMR membuat keprihatianan yang mendalam bagi AJI.
 
“Kami ingin memperjuangkan kesejahteraan para wartawan di Indonesia, banyak nasib jurnalis daerah atau kontributor bak layaknya pekerja outsourcing. Mereka tidak mendapat tunjangan kesehatan, gaji pokok, atau asuransi kecelakaan, mereka hanya dibayarkan upahnya dari berita yang tayang saja,” seru Adi Marcela, di sela aksi May Day di Gedung Sate, Jumat (01/05/2015).
 
Masih kata Adi Marcela, seharusnya upah jurnalis di Indonesia harus lebih besar di banding pekerja sector lain. Pekerjaan jurnalis adalah penuh resiko karena harus berada di lapangan berjibaku mencari berita meskipun halangan dan rintangan selalu menghadang.
 
“Upah jurnalis harus besar karena profesi ini kerjanya tidak terikat waktu seperti pekerja kantoran, seorang jurnalis harus siaga 24 jam jika terjadi suatu kejadian atau peristiwa yang penting untuk diberitakan. Jadi gaji jurnalis harus di atas UMR,” kata Adi.
 
Berdasarkan undang-undang tenaga kerja UU 13/2003 yang boleh di outsourcing adalah hanya profesi cleaning service, cathering, dan security, namun kenyataannya banyak profesi lain di outsourcing termasuk wartawan atau jurnalis.
 
“AJI menuntut semua perusahaan media harus mengangkat kontributor, koresponden, stringer menjadi karyawan tetap. Selama ini nasib mereka tak hanya seperti pegawai outsourcing yang tidak dapat jaminan kesehatan, kecelakaan, dan cuti”, imbuh Adi.
 
Selain masalah kesejahteraan, dalam peringatan May Day, AJI Bandung juga mengangkat masalah  intervensi jurnalis oleh perusahaan atau pihak luar. Banyaknya kasus kekerasan oleh pihak aparat dan penekanan oleh perusahaan, bukti bahwa jurnalis belum benar-benar dilindungi.
 
“Bukan hanya kesejahteraan saja yang di tuntut oleh AJI, AJI juga menolak keras terhadap intervensi dari pihak mana pun tak terkecuali pemilik media yang cenderung kapitalis," papar Adi.
 
Untuk memperbaiki permasalahan yang ada sekarang diperlukan kekompakan dan kerjasama yang kuat dari insan pers dan buruh pekerja media. Tolak kapitalisasi media yang berujung ke politisasi, karena sekarang pemilik media cenderung bermain di partai atau politik. AJI menuntut semua wartawan di Indonesia untuk diberikan kebebasan perserikatan untuk daya tawar mereka dan perlawanan mereka terhadap ke tidak-adilan
.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,