Istri Presiden Afghanistan, Menikahi Pria Muslim Bukan Masalah

Istri Presiden Afghanistan, Menikahi Pria Muslim Bukan Masalah

Ibu Negara Afghanistan, Rula Ghani

Afghanistan- Ibu Negara Afghanistan, Rula Ghani mengatakan, menikahi pria Muslim bukan merupakan suatu masalah. Rula Ghani adalah beragama Kristen-Maronit asal Libanon.
Demikian Rula Ghani dalam wawancaranya dengan BBC, Rabu (15/10/2014),  dia berharap dapat meningkatkan hak-hak perempuan 
"Saya ingin memberikan wanita keberanian dan kemungkinan melakukan sesuatu untuk memperbaiki kehidupan mereka," katanya.
Selama kampanye presiden suaminya, Ashraf Ghani -pemenang pemilu presiden Afghanistan 2014- Rula Ghani adalah satu-satunya istri para kandidat yang tampil di hadapan umum. Ketika Ashraf Ghani berterima kasih secara emosional kepada istrinya dalam pidato pelantikannya, hal tersebut menjadi bahan pembicaraan di seluruh Afghanistan.
"Dengan menyebut saya seperti yang dia lakukan, suami saya menunjukkan dengan tepat apa yang saya maksud dengan membantu perempuan Afghanistan menjadi lebih tegas, lebih menyadari peran mereka, dan lebih dihargai."
Rula Ghani jelas menyadari masyarakat Afghanistan masih konservatif dan mengatakan cara pandangnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai tradisional yang merupakan kunci kehidupan Afghanistan.
"Saya tidak ingin mengubah struktur sosial yang ada," katanya."Ketika tinggal di negara Barat, saya menderita karena tidak memiliki keluarga besar di sekitar saya. Dan saya pikir fakta bahwa di Afghanistan sistem sosial masih ada meski sudah 25 tahun perang saudara, saya pikir itu adalah sebuah hal positif."

Pikiran terbuka

Yang membuat Rula Ghani lebih menonjol lagi adalah karena dia dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Kristen-Maronit di Lebanon.
Dia bertemu Ashraf Ghani pada tahun 1970-an ketika mereka berdua belajar ilmu politik di universitas Amerika di Beirut. Saat itu, Rula baru selesai kuliah satu tahun dari perguruan tinggi Sciences Po di Paris.
Namun, orangtua Rula mengkhawatirkan pria pilihan Rula sehingga ayahnya menemaninya ke Afghanistan untuk bertemu keluarga calon suaminya.
"Ketika itu musim dingin. Kami tinggal di Inter Continental Hotel selama satu hari dan Ashraf datang dan membawa kami dengan mobil karena keluarganya berada di Jalalabad," kenang Rula.Kedua keluarga saling mengenal dan ayah Rula memberikan persetujuannya.
"Dia adalah orang yang sangat tradisional, namun memiliki pikiran yang sangat terbuka," kata Rula. "Dan saya akan senang jika semua pria Afghanistan seperti ayah atau suami saya."

'Tahap mendengarkan'

Pada akhir 1970-an pasangan itu pindah ke Amerika Serikat di mana Ashraf Ghanimenyelesaikan PhD-nya dan memulai karier di Bank Dunia, sementara Rula membesarkan kedua anak mereka.
Putri mereka, Mariam adalah seorang seniman video dan Tarek, sang putra, bekerja menangani isu-isu pembangunan.
"Mereka sangat bangga akan asal-usul mereka. Mereka sangat jelas mengatakan bahwa mereka memiliki keturunan Lebanon-Afghanistan-Amerika," kata Rula.
"Mereka sering pergi ke Afghanistan. Putriku telah menggelar beberapa lokakarya untuk seniman dan putra saya bekerja menangani isu-isu korupsi. Jadi mereka berkontribusi dengan cara mereka sendiri."
Kontribusi Rula Ghani sendiri akan datang dari kantor barunya yang didirikan di istana presiden dan dia mengatakan untuk tiga bulan pertama dia akan berada dalam "tahap mendengarkan" dan mencari tahu apa yang penting bagi masyarakat Afghanistan.
"Saya tidak memandang diri saya sebagai seorang aktivis, berjalan menyusuri jalan dan mengetuk setiap pintu," katanya.
"Selain itu saya telah mencapai usia tertentu di mana wanita lebih banyak tinggal di rumah. Saya berumur 60 tahunan dan saya memandang diri saya lebih sebagai seorang fasilitator."
Latar belakang Rula yang kosmopolitan tampak jauh dari realitas banyak perempuan Afghanistan di sebuah negara di mana kekerasan dalam rumah tangga kerap terjadi dan wanita yang melarikan diri dari kekerasan di rumah bisa berakhir di penjara.
Rula menyadari masalah ini dan mengatakan mereka harus menceritakan hal ini secara terbuka.
"Wanita Afghanistan harus memiliki keberanian untuk berbicara tentang hal itu. Mereka harus menyuarakan suara mereka dan mengatakan, mereka tidak menyukainya dan mereka tidak akan menerimanya."
Rula menyadari jelas terdapat batasan untuk apa yang dia harap dapat dicapai.
"Ada pepatah dalam bahasa Arab yang berarti setiap situasi harus dipertimbangkan berdasarkan kenyataan di lapangan," katanya. "Saya bisa berbicara di beberapa tempat secara bebas, tetapi tidak pada beberapa tempat lain."
Namun dia memiliki tujuan yang jelas.
"Jika saya berhasil membuat masyarakat lebih menghormati perempuan dan peran mereka dalam masyarakat, maka saya akan sangat senang. Itu benar-benar keinginan terbesar saya.(Ode)**
.

Categories:Internasional,