Dialog Upaya Melihat Humanistik dari Sisi Agama

Dialog Upaya Melihat Humanistik dari Sisi Agama

Yohannes Slmet Purwadi Ketua Panitia Simposium Nasional Dialog Agama

Bandung – Simposium Nasional Dialog Agama  yang digelar Universitas Katholik Parahyangan, berupaya menampilkan sebuah dialog agama yang kreatif  tidak konvensional. Disi oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto sebagai dosen filsafat di Unpar, ITB. 
 
Diskusi yang dihadiri kurang lebih 90 peserta ini dengan ketua panitia acara Yohannes Slamet Purwadi selaku Dosen Filsafat Unpar, memaparkan bahwa dirinya ingin menampilkan dinamika kelompok di mana akan ada untuk mengaktifkan pusat motorik dari peserta.
 
Menurut Yohannes, dialog yang digelar di museum perpustakaan Unpar ini diadakan untuk menggali sisi-sisi kemanusiaan alam, sisi humanis, humanisme dalam agama. "Kami  menganggap agama menampilkan wajah yang dogmatik, sehingga hasilnya militalisme, radikalisme," katanya. 
 
Sementara aspek sisi humanistik agama itu sebetulnya inti dari agama yang belum tergali. Jadi forum ini kami coba untuk menyadarkan  para peserta melihat humanistik  dari sisi agama,” ujarnya ditemui di Kampus Filsafat Unpar, Jalan Nias No. 2 Bandung.
 
Yohannes juga memaparkan, jangan sampai agama itu tampil hanya ritual  dogmatik. Oleh karena itu, diskusi ini mengandaikan setiap agama mempunyai sisi kemanusian yang sebetulnya universal. Pengikut acara diskusi dialaog agama tidak hanya mahasiswa, tetapi aktivis keagamaan, anggota parpol, dosen pun ikut tertarik pada simposium dialog agama yang diadakan pada Jumat-Minggu (1-3 April 2015)
 
“Kami  ingin membendung radikalisme dengan cara  semacam ini, share pengalaman keagamaan masing-masing  dalam diskusi kelompok. Ya kita tidak bisa mengubah Indonesia dalam sekejap, tapi ini sumbangan kecil bagi dunia kampus,” jelasnya.
 
Menurut Yohannes, ilmu filsafat itu ilmu yang mendayagunakan rasio  semaksimum mungkin, sehingga kesannya seolah menyingkirkan  yang  supranatural atau Tuhan, padahal sebenarnya tidak seperti itu. 
 
“Rasio itu digunakan untuk mematangkan  iman seseorang . Artinya, rasio itu  anugerah  yang diberikan Tuhan  yang tidak digunakan secara maksimum. Sehingga beragama pun jadi demikian karena membudidayakan rasionalitas,” ungkapnya.
 
Saat ini ilmu filsafat sebenarnya digunakan dengan menggunakan akal seha, sehingga rasionalitas itu berpikir menggunakan filter  dimana akan mendewasakan manusia. (Jr.)**
.

Categories:Pendidikan,
Tags:pendidikan,

terkait

    Tidak ada artikel terkait