UN di SMP YPAC Hanya Diikuti Seorang Siswa

UN di SMP YPAC Hanya Diikuti Seorang Siswa

Zaki Zachari Mulia Hariana, siswa tingkat SMP yang mengikuti UN di SLB YPAC Bandung.(Putri)

Bandung - Pelaksanaan UN 2015 di 
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Luar Biasa di Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Kota Bandung, hanya diikuti oleh seorang murid. Murid itu cukup kesulitan melingkari lembar jawaban, karena dengan keterbatasan menggerakkan tangannya.
 
Dia adalah Zaki Zachari Mulia Hariana, siswa tingkat SMP yang mengikuti UN di SLB YPAC Bandung. Dengan menggunakan kursi roda dia kesulitan menggerakkan tangan ketika melingkari kertas jawaban. Di dalam ruangan pun hanya ada dia beserta dua guru pengawas.
 
“Cuma ada satu siswa yang mengikuti UN tingkat SMP di sini, yaitu Zaki. Dia mengalami keterbatasan untuk bergerak terutama tangannya. Dia juga harus menggunakan kursi roda karena tidak bisa berjalan dengan baik,” ujar Basyariah, Kepala Sekolah Luar Biasa YPAC Kota Bandung saat ditemui, Kamis (7/4/2015).
 
Menurutnya, siswa itu mengalami Dystrophy Muscular Progressive (DPM), yakni kelainan berupa kelemahan otot. Namun, meski terkendala atas kekurangan itu, pihak SLB YPAC tidak memberikan perlakuan khusus bagi Zaki. Ia tetap melakukan UN sama seperti siswa lainnya yang normal.
 
“Dia itu ada kelainan kelemahan otot, makanya agak sulit juga untuk menggerakkan anggota badannya. Dia mengerjakan soal-soal UN sejak hari pertama sampai sekarang secara perlahan. Pengawas hanya membantu tangan dia untuk berada di atas meja dan memegang pensil. Untuk hal lainnya tidak ada perlakuan khusus, termasuk waktu ujian tetap sama yang lain yaitu dua jam. Itu kami lakukan, agar hasilnya murni tidak ada campur tangan dari pihak kami. Kami akan lebih bangga dengan hal itu,” tuturnya.
 
Terkait lembar jawaban yang harus dilingkari, pihak SLB YPAC menyerahkan sepenuhkan kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung, karena lembar jawaban itu tidak sempurna dilingkari oleh pensil. Namun, ia berharap pihak Disdik mempunyai penilaian khusus bagi siswa peserta UN yang mengalami kekurangan seperti Zaki.
 
“Kalau untuk lembar jawaban kan nanti diperiksa sama komputer. Otomatis kalau sama komputer keluar dari lingkaran sedikit pun tidak akan terdeteksi. Nah kita sudah mencoba melakukan koordinasi dengan Dinas mencari solusinya bagi lembar jawaban tersebut. Karena kalau secara daya pikir, dia (Zaki) orang yang mampu (menjawab soal-soal). Ya tapi karena kekurangannya itu, bisa saja isi jawabannya keluar dari lingkaran itu,” jelasnya. (Jr.)**
.

Categories:Pendidikan,
Tags:pendidikan,