Nenek Sahana Kembali ke Sekolah

Nenek Sahana Kembali ke Sekolah

Nenek, Siti Sahana (55).(Foto:Tempo)

Usia lanjut bukan penghambat bagi Siti Sahana (55) menjadi orang terpelajar dan meraih cita-cita menjadi seorang guru.

Nenek empat cucu itu terlihat serius mengerjakan soal-soal mata pelajaran Bahasa Inggris di salah satu rungan peserta ujian paket B di SMP Negeri 2 Kota Bengkulu.

"Saya ingin tamat SMP bahkan kalau ada umur dan rezeki ingin lanjut sampai kuliah," kata Siti usai mengikuti ujian hari ketiga, Rabu (6/5/2015).

Siti menuturkan riwayat pendidikan formalnya terputus di bangku SMP karena harus menikah dengan Muhammad Syahrie, suaminya hingga saat ini.

Setelah dikaruniai dua anak dan menggeluti berbagai usaha dan pekerjaan, Siti tidak pernah merasa puas.

Profesi guru yang ia cita-citakan di masa kecil terus membayangi sehingga ia mendirikan sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) "Sahara" pada Oktober 2014.

"Saya nekat mendirikan PAUD karena saya ingin mewujudkan cita-cita menjadi guru," ucapnya.

Bagi Siti, penyesalan yang muncul karena pernah meninggalkan bangku sekolah tidak perlu diratapi.

Justru ia membayar penyesalan itu dengan kembali ke bangku sekolah.

Empat hari dalam sepekan, ia dan puluhan peserta didik PKBM Sriwijaya di Kelurahan Sawah Lebar mengikuti pelajaran penyetaraan SMP.

Ia mengatakan tidak sulit mengikuti pelajaran di PKBM karena semangat dan niat yang bulat untuk menamatkan pendidikan setara SMP itu.

"Mata pelajaran paling sulit adalah Bahasa Inggris, saya hanya tahu one, two, three," kata dia menyebutkan urutan bilangan dalam bahasa Inggris, diiringi senyum lebar.

Sementara mata pelajaran lain yakni Matematika, Bahasa Indonesia, Biologi dan Pendidikan Kewarganegaraan masih bisa diikuti.

Siti mengatakan sudah pernah mengikuti ujian Paket B pada 2014 tapi tidak lulus.

"Karena waktu itu belajar kurang serius, jadi kali ini saya lebih banyak belajar, mudah-mudahan lulus," kata peserta tertua ujian Paket B di Kota Bengkulu itu.

Selain untuk mewujudkan cita-cita sebagai pengajar, Siti juga merasa malu dengan pengajar di PAUD yang dia dirikan.

Tiga orang pengjar di PAUD yang dipimpinnya bergelar sarjana membuat Siti merasa bertanggungjawab untuk melanjutkan pendidikan sehingga setara dengan para pengajar di PAUD itu.

"Sekarang lebih banyak mengawasi proses belajar dan merawat balita yang dititip di PAUD. Mudah-mudahan saya lulus ujian," tambah dia.

Muhammad Syahrie, suami Siti mengatakan seluruh keluarga mendukung upaya perempuan kelahiran Lahat, Sumatera Selatan itu untuk meraih cita-citanya.

"Mudah-mudahan diberi umur, rezeki dan kesehatan untuk Ibu melanjutkan pendidikannya dan meraih cita-citanya," ucapnya.

Pemilik PKBM Sriwijaya Kelurahan Sawah Lebar, Ralin mengatakan sangat bangga dan salut dengan niat dan usaha Siti Sahana untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda.

"Nenek Siti menjadi salah satu contoh bahwa penyesalan tidak untuk diratapi, tapi dibayar dan dia sudah membayarnya," kata dia.

Apalagi nenek Siti yang sudah pernah gagal pada ujian pertama pada 2014 tidak menyerah tapi kembali mencari PKBM yang lebih baik sebagai tempatnya belajar dan saat ini kembali mengikuti ujian penyetaraan.

Salah seorang pengajar di PAUD Sahara, Nitiria mengatakan salut dengan semangat dan kerja keras nenek Siti untuk melanjutkan pendidikannya.

"Kami sangat bangga dengan nenek Siti karena dalam usianya sekarang masih bersemangat untuk belajar, seharusnya menjadi contoh bagi orang muda," kata sarjana Bahasa Indonesia dari Sekolah Tinggi Ilmu Pengetahuan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan ini.

Peserta tertua Kepala Seksi Pembinaan dan Kursus Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal Dinas Pendidikan kota Bengkulu, Elis Desmarasari mengatakan Siti Sahana merupakan peserta ujian paket B tertua dari 323 orang peserta ujian.

"Nenek Siti Sahana menjadi peserta tertua dan semangatnya patut dicontoh," kata Elis.

Sebagian peserta dari wilayah perbatasan Kota Bengkulu dengan Kabupaten Seluma itu berusia di atas 40 tahun, namun peserta tertua adalah nenek Siti Sahana. Sedangkan peserta termuda ujian paket B pada 2015 berusia 22 tahun.

Ia mengatakan seluruh peserta ujian paket B sudah menuntaskan ujian selama tiga hari yakni 4 Mei hingga 6 Mei.

Peserta ujian paket B menyelesaikan dua mata pelajaran perhari sehingga ada enam mata pelajaran yang diuji selama tiga hari yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, IPA dan IPS.

Sedangkan untuk peserta reguler atau SMP/MTs mengikuti ujian untuk empat mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA.

Satu mata pelajaran diuji setiap hari sehingga pelaksanaan UN bagi pelajar SMP/MTs akan berakhir pada Kamis (7/5/2015).

"Pelajar reguler hanya satu mata pelajaran setiap hari sehingga ujian berlangsung empat hari," kata Elis.

Panitia Ujian paket B lainnya, Tahrin Simbang mengatakan sangat mendukung jika ada masyarakat yang berusia lanjut tapi masih memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan.

"Sesuai Peraturan UU Nomor 20 tahun 2003 tidak ada batas umur untuk paket B umur mereka minimal 14 tahun," kata Tahrin. (AY)

.

Categories:Pendidikan,
Tags:pendidikan,