Presiden Rusia Tuduh AS Peras Moskow

Presiden Rusia Tuduh AS Peras Moskow

Presiden Rusia Tuduh AS Peras Moskow

Moskow  - Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Presiden AS Barack Obama ingin bermusuhan dengan Rusia sebagai upaya untuk "memeras" dan ikut campur urusan Moskow.

Berbicara menjelang kunjungannya ke Serbia yang merupakan negara calon anggota Uni Eropa, Kamis, dan pertemuan penting dengan para pemimpin Uni Eropa pada Jumat (17/10/2014), Putin menuntut agar Washington mempertimbangkan kepentingan Moskow.

Dalam beberapa komentar kerasnya terkait hubungan AS-Rusia, Putin mempersoalkan pidato Obama di Majelis Umum PBB bulan lalu, ketika menyebutkan "agresi Rusia" di Ukraina timur sebagai ancaman dunia yang serupa dengan ISIS dan wabah Ebola di Afrika barat.

"Seiring dengan pembatasan yang diberlakukan atas seluruh sektor perekonomian, kami sulit untuk melakukan pendekatan apa pun selain bermusuhan," kata Putin kepada harian Serbia Politika.

"Kami berharap mitra kami mampu memahami upaya nekat mereka untuk memeras Rusia, (dan) ingatlah apa yang dapat dilakukan dua kekuatan nuklir terbesar demi menjaga kestabilan yang strategis" kata Putin dalam komentar yang juga dirilis oleh Kremlin, Rabu (15/10/2014).

Putin juga menuduh Washington ikut campur dalam urusan negaranya, menuduh Amerika Serikat sebagai pihak yang memicu krisis di Ukraina.

"Apa yang telah terjadi sejak awal tahun ini bahkan lebih menyedihkan," kata Putin.

"Washington aktif mendukung Maidan (aksi protes) dan mulai menyalahkan Rusia karena memprovokasi krisis di Kiev melalui fanatis nasionalisme, mereka adalah bagian penting yang menghidupkan perang saudara di Ukraina," katanya.

Putin, yang dijadwalkan akan bertemu pemimpin Ukraina Petro Poroshenko di Milan pada hari Jumat, meminta Kiev memulai dialog nasional dan mengatasi masalah dengan "menyusun konstitusional" untuk menghentikan konflik.

"Sebuah kesempatan nyata telah muncul untuk menghentikan konfrontasi militer, pada dasarnya itu adalah perang saudara," kata Putin.

"Memulai dialog internal secepatnya yang melibatkan Ukraina beserta partisipasi wakil-wakil dari semua daerah serta seluruh kekuatan politik," tambah Putin.

Putin pada hari Minggu (12/10) menarik 17.600 tentara dari perbatasan Ukraina yang dinilai sebagai upaya agar negara Barat mengurangi hukuman atas Moskow.

Dialog Kesetaraan Rusia-AS Putin menegaskan bahwa Moskow siap memperbaiki hubungan dengan Washington asalkan kepentingannya benar-benar diperhitungkan.

"Kami siap mengembangkan dialog yang konstruktif berdasarkan prinsip kesetaraan dan menjalankan kepentingan masing-masing dengan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh," kata Putin.

"Mitra kami harus menyadari bahwa upaya untuk menekan Rusia secara sepihak telah membatasi langkah dan hanya mempersulit dialog," katanya, mengacu atas sanksi Barat.

Rusia berselisih dengan Barat setelah menyerobot wilayah semenanjung Krimea dari Ukraina pada bulan Maret 2014 dan mendukung separatis di wilayah timur bekas negara Soviet itu.

Kiev dan Barat telah menuduh Kremlin mengirim pasukan secara rutin ke Ukraina untuk membantu kelompok separatis melawan pihak berwenang Kiev. Namun Moskow membantah tuduhan tersebut.

Pendahulu Putin di Kremlin, Dmitry Medvedev memelopori "kembalinya" hubungan Moskow dengan Washington, tapi hubungan tersebut kembali merenggang sejak Putin memenangi masa jabatan ketiga presiden Rusia pada tahun 2012.

Saat ini Rusia menghadapi masa terburuk karena isolasi internasional atas sikapnya pada Ukraina, sanksi-sanksi Barat membuat ekonomi Rusia tersendat.

Putin menyatakan bahwa sanksi-sanksi Barat akan menjadi senjata makan tuan, seraya menambahkan AS maupun perusahaan Uni Eropa seolah merusak nama baik mereka sendiri.

"Pada saat yang sama negara-negara lain secara menyeluruh akan berpikir tentang betapa masuk akalnya mempercayakan dana melalui sistem perbankan Amerika dan semakin meningkatkan ketergantungan atas kerjasama ekonomi dengan Amerika Serikat," katanya.

Putin juga meminta agar Brussels segera mendukungan pembangunan proyek pipa gas South Stream.

"Hal ini diperlukan untuk membuka situasi di wilayah selatan," katanya kepada Politika.

"Semua orang akan untung dari proyek ini, baik Rusia mupun konsumen Eropa, termasuk Serbia." Di sisi lain, anggota Uni Eropa lainnya, Bulgaria, telah menghentikan proyek pembangunan pipa gas South Stream menyusul tekanan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat. (AY)

.

Categories:Internasional,