Acha Septriasa: Jadilah Diri Sendiri

Acha Septriasa: Jadilah Diri Sendiri

Aca Septriasa. (Foto: WaOde)

Bandung- Nama besar tetap saja tampil sederhana. Siapa yang tak kenal Acha Septriasa di dunia film Indonesia? Perempuan kelahiran Jakarta 1 September 1989 ini sempat masuk perempuan berhonor tinggi setelah Luna Maya dan Nirina Zubir.
 
Meski sudah menyandang nama besar, tetap saja tak banyak berubah. Terbukti saat diundang menjadi pembicara film omnibus di acara Diskusi dan Pemutaran Film Omnibus yang digelar Forum Film Bandung sebagai rangkaian acara Festival Film Bandung 2015, Acha menyempatkan hadir di Bandung.
 
Itu terjadi Rabu pekan lalu di Museum Sri Baduga Jl BKR Bandung. “Kebetulan jadwal enggak ada syuting, berbagi ilmu juga aku pikir oke, karena menjadi pembicara itu ternyata asyik kok,” kata Acha disela-sela acara.
 
 
Bagi Acha, kariernya di dunia akting akhirnya bisa mengisi bagian dari masa depannya saat ini. Selain juga punya kemampuan menyanyi dengan baik. Apa yang dimilikinya saat ini tetap menjadi patron hidupnya.
 
Menjadi sutradara film Omnibus misalnya, alangkah besarnya tanggung jawab itu diembannya. Tetapi dengan status menjadi sutrdara, dia menjadi menghargai profesi sutradara yang begitu banyak menangani aktingnya. Film “Firasatku” yang pernah dibesutnya bersama Rio Dewanto memberinya pengalaman amat berharga, karena karyanya bisa ditonton secara komersil oleh penonton film Indonesia.
 
“Padahal aku baru banget menjadi sutradara, ini memang kepercayaan yang tidak aku sia-siakan dari Starvision, dari Pak Parwez Servia selaku produser saat pekerjaan itu harus diserahkan padaku,” kisahnya terharu.
 
 
Tetapi jangan pernah membayangkan jika perannya dalam film atau sinetron adalah berkaitan dengan kehidupan pribadinya selama ini. Nyaris tidak ada hubungannya, pengakuan itu ia sampaikan dihadapan peserta diskus film di Bandung dihadapan filmmaker dan kaum seniman dan budayawan.
 
“Kehidupan pribadi saya sama sekali tidak berhubungan dengan peran yang saya mainkan selama ini. Puluhan film boleh berjejer dihadapan saya, tetapi itu tidak ada kaitannya dengan kehidupan pribadi saya secara personal. Ini yang membuat saya lebih leluasa mengembangkan peran, begitu aku masuk pada tokoh, saya mencoba melepaskan semua atribut pribadi agar tidak saling mempengaruh, dan itu selalu berhasil aku lakukan, kalau pun ada kemiripan itu bukan lagi aku, ini yang selalu aku perhatikan sejak memasuki dunia akting,”
kata Acha dihadapan pencintanya dan peserta diskusi Film Omnibus.
 
Acha mengatakan sebagai pemain, dia harus bisa membedakan mana akting dan mana kehidupan nyata. Dia pun mengatakan tidak pernah terbawa dalam kehidupan nyata dari frame yang dimainkannya untuk film atau FTV mana pun.
 
 
“Ini yang membuat aku selalu komit, dan bisa membawa aku bermain tanpa beban, dengan siapapun aku berpasangan, aku juga bersyukur  diberi kemampuan acting yang cepat beradaptasi untuk pemahaman tokoh yang akan dimainkan,” katanya ringan.
 
Tak heran beberapa film mampu menghantarkannya untuk  menjadi Aktris Terbaik FFI dan Pemeran Utama Terpuji dari ajang FFB dan penghargaan televisi lainnya. Selama berkarier di duni akting, ia pernah meraih penghargaan sebagai "Leading Actress" (Aktris Terbaik) Guardians e-Awards pada tahun 2008 berkat aktingnya yang cemerlang dalam “Love”  (2008).
 
Selain itu juga pernah menjadi nominator Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2007 lewat Love is Cinta. Tahun 2008 menjadi titik balik
kariernya dan dinobatkan sebagai "Star of the Year" oleh Mellyana's Guardians.[3] Pada Tahun 2012, ia terpilih sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam ajang Piala Citra Festival Film Indonesia 2012 melalui aktingnya di film Test Pack. Film ini pula yang menghantarkan dirinya menjadi Pemeran Utama Terpuji di FFB.
 

“Aku menempatkan semua penghargaan itu sama, dan menghargai hasil penilaian orang lain terhadap acting yang aku berikan, yakin juga sih kerja keras selalu akan menghasilkan sesuatu yang baik, dan itu tidak pernah direncanakan, biarlah aku tidak berharap sehingga sampai kanpanpun kepercayaan akan bisa aku pertanggungjawabkan sebagai pemain terhdapat tokoh yang aku mainkan, jika ada award itu bonus yang selalu memicu aku untuk terus belajar lebih baik,” ungkap perempuan yang suka tersenyum ini.

 
Acha Septriasa memang seorang aktris dan penyanyi Indonesia yang serba bisa.
Perempuan  berdarah Minangkabau  ini mulai terjun ke dunia hiburan saat menjadi GADIS Sampul 2004
 
 
Pemilik tubuh 164cm/46 kilogram ini terjun ke dunia akting lewat film "Apa Artinya Cinta?” (2005) yang tampil sebagai pemain pendukung artis Shandy Aulia. Dia menjadi terkenal saat main film Heart” bersama Nirina Zubirdan Irwansyah. Tak hanya bermain film, ia pun menjadi penyanyi lagu tema dalam film tersebut, berduet dengan Irwansyah, kekasihnya saat itu.
 
Album lagu tema tersebut mendapatkan penghargaan double platinum, untuk Original Soundtrack terbaik tahun ini. Tak hanya di Indonesia, ia juga terkenal di Malaysia. Bahkan lagu-lagu duet yang dibawakannya dengan Irwansyah seperti Sampai Menutup MataMy Heart, dan Pencinta Wanita menduduki daftar teratas di radio-radio Malaysia. Setelah film Heart, ia dan Irwansyah bermain kembali dalam film “Love is Cinta” dan sinetron “Andai Ku Tahu”.
 
Kini Acha baru saja merampungkan dua film untuk tahun 2015 ini  berjudul “ Lamaran” garapan Monty Tiwa dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”.
 
“Nanti nonton ya aku butuh masukan khusus,” candanya pada CikalNews.com
Pesannya , manfaatkan kesempatan semaksimal mungkin mumpung masih muda. Masih banyak yang diperbuat dan bisa bermanfaat bagi yang lain. “Dan jadilah diri sendiri”,(Ode)**
 

Biodata:

 
Nama lahir
Jelita Septriasa
Nama lain
Acha Septriasa
Lahir
Pekerjaan
Tahun aktif
2004 - sekarang
Pasangan
Radipto Indra Rukmana
Orang tua
Sagitta Ahimsha
Rita Emza
Agama
 
 
Film
Sinetron
FTV
.

Categories:Sosok,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait