Longsor Pangalengan Bukan Bencana tapi Kecelakaan

Longsor Pangalengan Bukan Bencana tapi Kecelakaan

ilustrasi. (Net)

Bandung-  Gerakan Massa Pejuang Untuk Rakyat (Gempur), LBH Bandung, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) menilai, kejadian bocornya pipa gas panas bumi  milik PT Star Energy bukan disebabkan oleh bencana longsor tanah. Namun hal itu lebih disebabkan akibat kejadian meledaknya pipa gas panas bumi yang menyebabkan tanah longsor.
 
Okki Satrio, perwakilan Gempur mengungkapkan, pihak PT Star Energy menggunakan bahan arsenik dan boron, sehingga membuat batu menjadi pecah dan memicu gempa vulkanik dan tektonik. "Sekali lagi kami menegaskan, di Pangalengan bukan bencana biasa, tapi kecelakaan dari PT Star Energy. Untuk itu perusahaan ini sebaiknya bertanggung jawab kepada pihak korban,” tegas Okki saat konferensi pers di kantor LBH Jalan Rereng Wulung Sukaluyu Bandung, Selasa (12/5/2015)
 
 
Sementara itu, Arif Yogiawan dari LBH mengungkapkan, saat ini di Jawa Barat potensi geothermal sudah ada lebih dari 30 titik. Menurut Okki teknologi fracking yang digunakan PT Star Energy berdampak pada munculnya gempa minor. Padahal saat ini di Arizona, Texas misalnya, mereka menolak menggunakan teknologi itu karena akan menghabiskan air di negaranya.
 
"Hal itulah merupakan awal bencana dan harus diantisipasi, sehingga pihak PT Sstar Energy harus bertanggung jawab,” tegas Yogi saat ditemui di lokasi yang sama
 
Berbagai praktek ekplorasi sering menimbulkan masalah sosial dan lingkungan, seperti kelangkaan air . Bahkan sejak geothermal ada di Pangalengan asap yang ditimbulkannya telah  menghancurkan tanaman warga. Pada tahun 2009 pipa gas geothermal sempat meledak ,dan warga berdemostrasi ke pusat penambangan Star Energy untuk menutup pertambangan.
 
Dari data yang diperoleh dari pihak LBH saat  ini korban Pangalengan mencapai 200 jiwa, di antaranya 7 orang korban jiwa serta 3 orang belum ditemukan. Beberapa warga mengalami 11 luka ringan, 4 luka berat serta 7 rumah yang tertimbun longsor dan  5 rumah rusak. 
 
Menurut pihak  LBH, Gempur dan AGRA  dengan melihat dampak tersebut jelas sangat bertentangan, dengan apa yang menjadi awal pembangunan eskplorasi di Indonesia. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,