Banyak Tantangan Ekonomi di Era Jokowi

Banyak Tantangan Ekonomi di Era Jokowi

Banyak Tantangan Ekonomi di Era Jokowi

Jakarta - Pemerintahan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) akan menghadapi banyak tantangan, terkait adanya gejolak ekonomi baik domestik maupun global.

"Masa lalu dari 2005-2012, ekonomi RI bergerak kondusif menguntungkan kita. Suku bunga rendah, likuiditas melimpah dan harga komoditas tinggi. Perkembangan geopolitik juga stabil dan poltik. Namun ini sudah berlalu," kata Wakil Ketua KEN, Raden Pardede di Jakarta.

Tantangan utamnya datang dari depan (head wind) yang harus dihadapi Indonesia. Ini berkaitan dengan ekonomi global yang memburuk dan perkembangan perekonomian dunia, yang saat ini bergantung pada ekonomi Amerika.

Sementara itu, perekonomian Eropa juga masih belum mengalami perbaikan sepenuhnya disertai dengan melambatnya perekonomian Cina. Perlambatan ini berdampak pada tekanan harga komoditas, dan akan mempengaruhi perekonomian Indonesia yang mengandalkan ekspor.

"Angin dari depan sedang berembus menghadang kita. Semua bergantung Amerika. Mesin lain sedang macet, seperti macet di Eropa, mesin macet Amerika Latin dan Afrika. Ada juga mesin yang lagi direparasi seperti Cina dan Jepang," lanjutnya.

Menurutnya, saat ini perekonomian Amerika yang relatif lebih baik. Sementara itu, perekonomian Eropa dan Jepang berada dalam posisi yang lebih buruk dari perkiraan. Ini semakin diperburuk oleh kebijakan Bank Sentral Amerika (the Fed), yang akan membuat pelonggaran moneter seperti quantitaif easing dan penghentian pembelian surat berharga negara.

"Kemudian bank sentral Eropa melakukan pelonggaran moneter luar biasa. Akibatnya negara berkembang akan tumbuh di bawah rata rata 5 tahun belakang. Hampir semua negara seperti Cina, Brazil dan Indonesia," katanya.

Tantangan lain adanya angin dari samping atau cross wind. Namun hal ini masih bisa dicegah bila pemerintah mampu mengambil kebijakan secara tepat, sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk terhadap perekonomian Indonesia.

"Maka harus ada antisipasi, baik dengan kebijakan stabilisasi maupun tranformasi secara strusktural. Ini perlu diantisipasi lebih dini dengan seluruh perangkat penanganan krisis. Terutama tantangannya masih sama, di mana Indonesia mengalami twin defisit di tengah kontraksi ekonomi," tegasnya. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:ekonomi,