Suara 'Sangkakala' karena Fenomena Alam & Manusia

Suara 'Sangkakala' karena Fenomena Alam & Manusia

Ilustrasi.(Foto:Net)

Bandung - Terkait dengan hebohnya suara aneh yang mirip suara terompet atau "sangkakala" menurut Guru Besar Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung, Suryadi Siregar lebih disebabkan oleh dua faktor. Yakni faktor fenomena alam dan aktivitas manusia.
 
Seperti diberitakan sebelumnya, beberapa saksi yang mendengar suara aneh tersebut mengaku sangat ketakutan, hingga mereka menyebut suara itu sebagai penanda datangnya hari kiamat atau terompet sangkakala.
 
Menurut Suryadi, suara aneh tersebut memang disebabkan oleh fenomena alam dan aktivitas manusia itu sendiri. Untuk fenomena alam, dia berpendapat suara tersebut bisa muncul karena dipicu oleh gerak lempeng dari bumi. 
 
Sementara posisi bumi seperti kapal besar di lautan yang mengapung. Sehingga pada saat ada pergeseran lempeng, memang biasanya memunculkan bunyi yang agak keras. "Suara akan jelas saat dalam kondisi hening," katanya.
 
Ia mengatakan, ada kemungkinan suara aneh tersebut dipicu dari aktivitas dalam bumi. Pemicunya adalah aktivitas inti bumi yang terdiri atas cairan magma. Inti bumi tersebut bisa menjadi media perambat, yang mengirimkan suara hingga ke permukaan bumi.
"Setiap ada gerakan gejala terjadi --di dalam bumi-- maka terjadi pergerakan lempeng dan kemudian diikuti oleh bunyi yang muncul," katanya.

Mengenai suara khas seperti suara terompet, Suryadi menjelaskan hal tersebut bisa terjadi karena udara yang keluar dari rongga. Proses itu  membuat suara yang muncul seperti suara harmoni yang teratur. 

Suara dari dalam bisa muncul melalui rongga atau celah yang ada di kerak dan permukaan bumi. "Secara umum memang hal itu bisa terjadi, karena rongga kecil (di permukaan) yang mengeluarkan tekanan dari bumi. Dari situ suara akan muncul," tegasnya.

Sedangkan untuk penyebab dari aktivitas manusia, katanya hal itu bisa terjadi karena ada proses interaksi di udara.  Dampak kegiatan manusia membuat kandungan udara berubah. Kondisi itu kemudian membawa perubahan tekanan aliran arus angin. Tekanan itu terus akan melewati celah batu karang dan gunung hingga terdengar suara aneh. 

"Kandungan udara berubah bisa juga diakibatkan oleh kegiatan manusia yang melebihi batas. Di samping itu, lapisan ozon yang terus mengalami pengikisan, karena penggunaan freon maupun kerusakan hutan dari kebakaran," katanya. 

Secara prinsip, Suryadi memandang, penyebabnya lebih pada permukaan bumi dan darii dalam bumi itu sendiri. Sedangkan kalau berbicara adanya kemungkinan atau penyebabnya dari luar angkasa, hal itu sangat kecil kemungkinannya. (Jr.)**
.

Categories:Unik,
Tags:,