2015, Suhu Bumi Jadi yang Terpanas Sejak 1880

2015, Suhu Bumi Jadi yang Terpanas Sejak 1880

Ilustrasi.(Net)

London - Beberapa ahli perubahan iklim menyatakan pendapatnya, tahun 2015 akan diisi dengan suhu yang terpanas sepanjang sejarah, berdasarkan kenyataan bahwa setiap tahun suhu di Bumi terus melonjak tinggi. Bahkan, untuk kawasan Antartika misalnya, terpantau selama beberapa hari berturut-turut mengalami suhu terpanas selama bulan Maret tahun ini.
 
Selama periode Januari hingga April, di negara seperti Guinea, Ghana, Venezuela, dan Laos, pencapaian suhunya yang terpanas mengalami kenaikan 0,68 derajat Selcius di atas rata-rata. Sedangkan dilihat dari periode tahunnya, tercatat 12 bulan di tahun 2014 temperatur suhunya selalu mengalami kenaikan yang terus menerus. 
 
Menurut Profesor Adam Scaife yang memimpin penelitian iklim di Met Office, United Kingdom (UK), pada tahun 2015 ini akan menjadi rekor suhu terpanas. "Sejak Desember (2014) kami sudah memperkirakan, tahun ini akan mencatat rekor baru, yakni sekitar 0,64 derajat Celcius di atas normal, dan suhu global yang lebih tinggi sepanjang tahun ini bila dibandingkan dengan tahun lalu," kata Adam.
 
Dikutip dari Daily Mail, Jumat (29/5/2015) berdasarkan pengukuran suhu global dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), maka pada tahun 2014 suhu globalnya hanya mencapai 0,68 derajat Celcius, atau 1,24 derajat fahrenheit di atas rata-rata jangka panjang.

Sementara National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melaporkan, pada periode tahun ini mulai dari Januari hingga April suhunya melebihi periode sama di tahun sebelumnya, yakni dengan 0,80 derajat Celcius atau 1,44 derajat fahrenheit di atas rata-rata abad ke-20.


Disebutkan, salah satu penyebab dari panasnya suhu global tersebut, diakibatkan oleh adanya fenomena alam El Nino yang berada di Samudera Pasifik yang membuat tingginya curah hujan di daerah tropis. Pada sisi lain, hal itu menyebabkan kekeringan di Afrika dan India.


Diketahui, El Nino merupakan fenomena penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik, khususnya di sekitar equator atau di bagian tengah dan timur.


El Nino dipandang bagaikan dua mata koin, terkadang membantu untuk menghangatkan atmosfer Bumi, karena air dingin dari laut yang menyerap panas berlebih. Namun, terkadang pula membawa kondisi musim dingin yang ekstrem ke daratan Eropa bagian Utara. Dengan demikian, panasnya suhu global di tahun 2015 ini menjadi yang terpanas sejak tahun 1880. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:bencana,