40 Persen Kecamatan di Perbatasan 'Pintu' Narkoba

40 Persen Kecamatan di Perbatasan 'Pintu' Narkoba

Ilustrasi.(Net)

Manado -  Sekitar 40 persen dari sebanyak 187 kecamatan yang berada di daerah perbatasan menjadi "pintu" keluar-masuk perdagangan narkoba.


"Di Kepulauan Riau, Papua, Nusa Tenggara Timur sebagai kawasan keluar masuknya narkoba. Ini merupakan bencana nasional, darurat nasional kita," kata Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam pertemuan dengan kepala daerah, DPRD, KPUD, Bawaslu dan Panwaslu se-Provinsi Sulawesi Utara di Manado, Jumat (29/5/2015).

Mendagri mengatakan, laporan badan narkotika nasional (BNN) per hari rata-rata 46-50 orang meninggal karena narkoba, dan per RT sudah ada 1-2 terjangkit narkoba suntik atau hisap. Sedangkan yang tertangkap kepolisian, ditahan dan proses rehabilitasi mencapai 4,8 juta orang. 

Padahal, kata Menteri pengguna narkoba tidak boleh ditahan, karena hal itu yang menyebabkan 80 persen lembaga pemasyarakatan penuh dan juga pengguna justru "belajar" menjadi pengedar.

"Pengguna narkoba harus direhabilitasi. Saya minta gubernur, walikota, memerintahkan rumah sakit menyediakan ruang rehabilitasi pengguna narkoba," katanya.

Menurut Menteri, pengguna narkoba yang ketahuan dan yang melapor tidak boleh ditahan, namun harus direhabilitasi, dan tahun ini pemerintah menganggarkan Rp1 triliun untuk program ini, ditambah alokasi anggaran kementerian sosial, kementerian kesehatan, BNN dan pemda.

"Rp 1 triliun satu tahun hanya untuk membiayai 100 ribu pengguna narkoba. Kita punya 4,8 juta orang, berapa tahun lagi untuk obati? Belum lagi yang baru-baru muncul," katanya.

Ia menambahkan, khusus pemasok dan pengedar perlu dijerat sebagaimana mekanisme hukum yang berlaku, yakni dihukum mati atau seberat-beratnya, namun khusus pengguna harus direhabilitasi.(Ode)**
.

Categories:Daerah,
Tags:narkoba,