Lewat Budaya Batik Bisa Bangun Moralitas Diri

Lewat Budaya Batik Bisa Bangun Moralitas Diri

NY Netty Heryawan dan Ny Otje Djunjunan diacara Pagelaran Batik Jawa Barat, Minggu (31/5/2015) - foto Wa Ode -

Bandung- Budaya, inilah yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Jika sebuah negara hilang budayanya maka hilang pula bangsanya. Jika dikaitkan dengan kita orang Sunda dengan yang lainnya bukan darahnya yang beda, sehingga sering disebut berdarah Sunda, berdarah Aceh atau suku lainnya. Penyebutannya  yang beda, budayanya budaya Sunda, karena kalau darah ya hanya ada darah A, B, AB, dan O. 
 
Demikian dikatakan sesepuh Jawa Barat  anggota DPR RI Komisi X, Ny Otje Djunjunan saat hadir diacara   pembukaan "Pagelaran Busana Batik Jawa Barat" yang digelar Rotary Club Bandung Kota Kembang di Grand Royal Panghagar Bandung, Minggu (31/5/2015). 
 
Menurut Ceu Popong, demikian akrab disapa, batik khas Jawa Barat adalah budaya, ciri khas setiap daerah  begitu banyak, setiap daerah kota/kabupaten saat ini sudah memiliki batik, karena itu kita harus memelihara dan menumbuhkembangkannya. 
 
"Apalagi batik ini diakui oleh dunia dan menjadi urutan ke lima, kita harus bangga karena memiliki khas batik dari Jawa Barat, ini perlu kita pertahankan bahkan dikembangkan terus sehingga ada kebanggaan sebagai budaya Sunda," katanya.   
 
Sementara Ketua Dekranasda Jawa Barat Ny Netty Heryawan mengatakan, sangat mendukung apa yang telah digagas oleh Rotary Club Bandung Kota Kembang yang telah mengangkat budaya batik Jawa Barat melalui para desainer kita. Jangan hanya bangga kerena sudah bisa mengenakan batik Jawa Barat, tetapi dibalik batik ini begitu banyak orang-orang yang terlibat dan bermuatan ekonomi. 
 
"Ini yang membanggakan, pergerakan ekonomi kreatif begitu banyak yang terlibat dan saling menghidupi, dibalik kegiatan batik Jaw Barat, bisa saling menghidupi sesuai bidang masing-masing. Kita memang harus  saling memajukan penghasilan setiap bidangnya. Melalui batik bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang begitu banyak karena keterlibatan masyarakat juga banyak di acara ini," ungkapnya seraya mengatakan melalui batik bisa membangun moralitas diri.
 
Netty juga menghimbau agar Rotary Club Bandung Kota Kembang tidak hanya memberikan perhatian untuk bidang kemanusiaan, tetapi  jika perlu ikut  memikirkan bagaimana agar wanita di Jawa Barat bisa berdaya guna untuk dirinya dan keluarganya dari hasil yang positif. Netty lalu memberi contoh bagaimana penghasilan yang dilakukan segelintir orang yang bekerja di Saritem.
 
"Kami ini dititipi 5 orang wanita dari Saritem hasil pengrebegan beberapa waktu lalu. Ketika ditanya penghasilannya sebulan, ternyata bisa mencapai Rp 7-12 juta per bulan, itu kemudian dikirim ke orangtuanya di kampung, jadi orangtuanya juga mengetahui pekerjaan anaknya di Saritem itu seperti apa. Nah  mari kita membendung bagaimana agar anak-anak kita bisa tidak tergelincir dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Perkembangan tehnologi, terkadang orangtua  tergeser oleh budaya tehnologi, sehingga anak bisa los kontrol," tandas Netty.
 
Dia berharap Rotary Club Bandung juga ikut memotret fenomena masyarakat yang pola asuh anak dan orangtuanya sudah bergeser jauh karena kemajuan tehnologi.
 
 "Karena itu saya apresiasi pada kegiatan Rotary Clun Bandung, yang bisa membantu kehidupan yang benar-benar membutuhkannya," katanya seraya mohon pamit karena tidak dapat mengikuti acara sampai selesai. (Ode)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,