Inilah Sopir Taksi Perempuan Pertama di Afghanistan

Inilah Sopir Taksi Perempuan Pertama di Afghanistan

Sara Bahai, Sopir Taksi Perempuan Pertama di Afghanistan

Mazar-i-Sharif - Dengan keyakinan bahwa perempuan bisa ikut dalam pembangunan kembali negaranya --yang dicabik perang, seorang perempuan di Mazar-i-Sharif, Afghanistan Utara, telah memilih karir yang bisa membantu perempuan meningkatkan hak mereka.

"Kita harus memperjuangkan hak kita. Saya bangga menjadi perempuan pertama yang menjadi sopir taksi di Afghanistan," kata Sara Bahayi --perempuan yang berusia 40 tahun-- dalam satu wawancara dengan Xinhua.

Di beberapa desa suku Afghanistan, perempuan --terutama perempuan muda-- diharuskan tinggal di rumah dan dilarang bersekolah, yang menjadi tradisi yang diwariskan dari faksi Taliban.

Afghanistan, menurut pegiat hak asasi perempuan, adalah negara yang menjadi tantangan buat perempuan untuk bisa hidup. Perempuan dipandang sebagai kelas dua dibandingkan lelaki dan sering menderita pelecehan mengerikan semata-mata karena jenis kelamin mereka.

"Mula-mula, keluarga saya menentang keinginan saya untuk mengemudi taksi. Mereka memberitahu saya itu adalah pekerjaan yang didominasi lelaki. Anda tahu, ketika saya mengemudi taksi dua tahun lalu, pengemudi taksi lain berusaha mengganggu saya. Mereka berusaha menghalangi kendaraan saya. Namun, kini mereka telah mengubah pandangan mereka," kata Bahayi.

"Telah ada diskriminasi sangat besar terhadap perempuan pada masa lalu. Perempuan tak bisa menikmati hak dasar yang diletakkan oleh hukum Afghanistan. Namun situasi telah membaik dalam beberapa tahun belakangan. Hari ini, murid perempuan bisa belajar di sekolah dan perguruan tinggi bersama kaum lelaki," katanya.

"Selama bertahun-tahun, pemerintah dan lembaga hak asasi manusia internasional mengatakan mereka berusaha menjamin hak perempuan ditegakkan, tapi kami percaya semua itu hanya lah janji belaka," kata Bahayi, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin pagi. Ia menambahkan, "Saya bermaksud mendorong perempuan lain agar melakukan peran aktif di dalam masyarakat mereka." Ketika berbicara mengenai karirnya, Bahayi tanpa ragu mengatakan, "Saya telah memulai gerakan ini dan saya menyeru perempuan lain Afghanistan agar melanjutkannya. Impian saya ialah melihat makin banyak perempuan pengemudi di kota besar, yang akan menjadi tanda peningkatan hak perempuan," katanya.

"Kebanyakan penumpang saya adalah perempuan. Mereka memilih naik taksi saya sebab mereka merasa aman. Sebagian lelaku pengemudi taksi masih kurang menghormati dan memahami perempuan yang menjadi penumpang mereka," tambah Bahayi.

"Ketika penumpang saya laki-laki, saya berusaha bercakap-cakap dan berbicara dengan mereka mengenai hak asasi perempuan," katanya.

Dengan mata berbinar, Bahayi mengatakan ia akan berusaha menyebarkan pengetahuannya mengenai mengemudi di kalangan perempuan Afghanistan. Ia juga menyeru keluarga dan orang tua di negara yang diporak-porandakan perang itu agar mendukung anak perempuan mereka belajar dan bekerja di luar rumah.

Kebanyakan perempuan Afghanistan menderita akibat kemiskinan dan masih menjadi sasaran tindak kekerasan dan pelecehan, kondisi yang iraonis sebab ada beberapa perempuan Afghanistan yang sekarang menjadi anggota dewan legislatif dan pejabat. (AY)

.

Categories:Internasional,
Tags:unik,