Peringati Harganas Diwarnai 'Roadshow Jabar Ngahiji'

Peringati Harganas Diwarnai 'Roadshow Jabar Ngahiji'

Aher saat melepas tim roadshow peringatan Harganas di halaman Gedung Sate. (Foto : ADE/CikalNews)

Bandung – Peringatan Harganas (Hari Keluarga Nasional) ke-22 tingkat Jabar, ditandai dengan pelepasan roadshow Jabar Ngahiji di depan halaman Gedung Sate Kota Bandung langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Peserta roadshow diikuti oleh BKKBN Kota/Kabupaten se-Jabar, untuk melakukan sosialisasi pentingnya peningkatan kesejahteraan keluarga. Menurut Heryawan, peringatan Harganas harus dijadikan momentum untuk mensosialisasikan keluarga yang punya ketahanan dan keluarga bahagia sejahtera. “Keluarga bahagia merupakan cita-cita bangsa. Idealnya kita punya cinta kasih dalam keluarga dan hidup, nyaman, aman serta layak,” papar Heryawan di halaman Gedung Sate, Jumat (5/6/2015). Ia mengimbau, warga Jawa Barat menekan angka kekerasan kepada anak dalam keluarga. Kekerasan pada anak bisa dihindari jika orangtua memberikan pendidikan dan nasihat tanpa kekerasan. Dengan rasa cinta dan kasih sayang, mendidik anak cukup dengan ucapan sopan dan contoh yang baik. “Kita tidak perlu menampar, nyintreuk dan memarahi anak dengan melotot, yang penting kita mendidik dan menasihati anak dari hati terdalam dengan rasa cinta dan kasih sayang," katanya. Sementara itu, perlu kesadaran untuk melaporkan ke pihak berwajib, jika ada keluarga yang melakukan kekerasan kepada anak. Polisi tidak bisa menindak pelaku KDRT jika tidak ada laporan dari keluarga korban atau orang terdekat korban. “Kesadaran melapor itu penting dalam kasus KDRT, warga tidak usah ragu dan takut jika melihat KDRT di lingkungan sekitar,” ungkapnya. Pada sisi lain Heryawan menjelaskan, munculnya gejala individualisme di masyarakat membuat keprihatinan mendalam. Seharusnya makin tinggi pendidikan seseorang makin bagus membawa kesetiakawanan social, gotong royong, dan peka terhadap lingkungan, bukan sebaliknya. Namun, yang kurang peduli dan peka terhadap lingkungan sekitar justru dari orang berpendidikan. “Contoh pembuang limbah pabrik ke sungai, itukan orang berpendidikan. Begitu juga pada perusakan lingkungan sama dilakukan oleh orang berpendidikan tinggi," tegasnya. (Jr.)** .

Categories:Bandung,
Tags:,