Penulis-penulis yang 'Terjebak dalam Kotak

Penulis-penulis yang 'Terjebak dalam Kotak

Anastasia Fransiska, alias Eka, penulis dari Ende

Makassar-Tidak ada rumah yang paling dirindukan selain Ende. Begitulah Anastasia Fransiska Eka, 27, menggambarkan masa kecilnya yang selalu hidup berpindah-pindah.
Lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur, Eka ikut orang tuanya menetap di Timor Timur (kini Timor Leste) pada usia lima tahun. Kemudian mereka pindah ke Kediri, lalu kembali ke Flores timur, tempat Eka menamatkan SD dan SMP.
 
Kehidupan semacam ini membuat Eka sering merasa rindu rumah dan akhirnya mulai menulis.
“Ada keinginan untuk kembali ke kota yang sama. Dari situ, saya jadi rajin menulis supaya kenangannya tidak hilang,” katanya.
 
“Jadi ketika saya ingin kembali ke tempat itu, tetapi tidak bisa, saya bisa baca tulisan saya tentang kota itu dan tentang orang-orangnya.”
Eka mencintai Ende, terutama orang-orangnya yang cepat akrab walau tak kenal, yang punya rasa ingin tahu besar, dan yang memperlakukan semua orang seperti keluarga.
 
Orang Ende, kata Eka, juga bangga sekali dengan sejarah mereka. “Bung Karno pernah merenungkan Pancasila di sana, ketika dia diasingkan pada 1934-1938,” dia mencontohkan.
Kegemaran Eka menulis, membawanya hadir di Makassar International Writers Festival yang berlangsung empat hari di Benteng Rotterdam. Dia adalah satu dari enam penulis muda dari timur yang terpilih sebagai ‘emerging writers’ atau penulis-penulis potensial masa depan.
 
Eka bermimpi untuk menulis buku tentang Ende dan dia bertekad untuk belajar dengan para penulis yang berpengalaman yang dia temui di Makassar. Namun kehadiran Eka, dan juga beberapa penulis timur lain tidak hanya membawa semangat, tapi juga keresahan.
Keresahan tentang penulis dari timur yang merasa ‘karyanya tak cukup bagus’ dan enggan berkompetisi dengan penulis-penulis di Pulau Jawa – yang punya akses lebih besar ke penerbit dan media massa.
"Tidak mau lepas dari kotak kedaerahan," bagitu Eka mengistilahkan.
“(Saya) ingin kasih motivasi untuk teman-teman di daerah saya, biar juga mau coba keluar. Karena karyanya bagus-bagus tetapi kalau diajak untuk coba ikut ini atau itu, jawabnya: jangan ah biar kita main di daerah saja dulu. Kita kan bukan orang ibu kota, kita masih level daerah.”
 
“Tapi saya pikir kalau kita belum pernah mencoba mana kita tahu kan?
Rasa rendah diri inilah dasar dan latar belakang penyelenggaraan Makassar International Writers Festival yang kelima tahun ini.
 
Penulis asal Bone, Aan Mansyur, mengatakan penulis dari timur memang “tidak seberuntung” penulis lain di daerah lain dan “perlu usaha dua kali lipat” bagi mereka untuk membuat karya-karyanya diterbitkan.
“Indonesia timur aksesnya jauh ke pusat sastra, di Jawa. Dan, dunia penerbitan terasa asing bagi mereka.”
“(Padahal) kemampuannya mungkin sama, tapi mereka tidak cukup percaya diri, tidak cukup punya pengalaman. Semua faktor ini terakumulasi sehingga teman-teman (penulis) dari timur semakin tidak punya ruang,” kata Aan yang juga menjadi pustakawan di KataKerja, Makassar.
John McGlynn dari Yayasan Lontar mengatakan saat ini industri buku memang terlalu berpusat di Jakarta. Sangat berbeda dengan tahun 1980-an, di mana sejumlah penerbit masih aktif di Ende, Bukit Tinggi, dan Medan.
 
Namun ruang bagi penulis timur sudah semakin terbuka dalam beberapa tahun terakhir. Di Kupang atau Makassar misalnya, mulai muncul sejumlah penulis muda potensial, dan kegiatan menulis lebih bergairah dibandingkan lima tahun sebelumnya.
 
Selain Aan yang kini telah menerbitkan sejumlah kumpulan puisi, novel, dan cerita pendek – dan malah diidolakan oleh pembaca-pembaca muda - ada juga Erni Aladjai yang novelnya berjudul Kei telah dialihbahasakan ke bahasa Inggris oleh Dalang Publishing di Amerika Serikat.
Penulis muda Faisal Oddang yang baru berusia 22 tahun, telah menjuarai beberapa kompetisi menulis dan cerpennya telah diterbitkan dalam sejumlah antologi cerpen termasuk Dunia di Dalam Mata terbitan Motion Publishing.
Bagaimana pun, perjalanan masih panjang bagi mereka, terutama untuk menampilkan kisah dan pandangannya ke dunia.
 
Seperti yang dirumuskan John McGlynn dari Yayasan Lontar, ada tiga hal yang menentukan agar karya seorang penulis bisa ‘berbicara’ di dunia, yaitu talenta, promosi, dan penerjemahan.
Tahun ini, Indonesia akan menjadi tamu kehormatan di pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Book Fair, di Jerman. Di sana, 200 karya penulis Indonesia akan dialih-bahasakan ke dalam bahasa Inggris dan dipamerkan dalam paviliun dan rangkaian acara khusus.
 
Kesempatan bagus untuk penulis-penulis timur mendapat pengakuan. Namun, jika di Indonesia saja tidak kelihatan, bagaimana bisa tampil di dunia?
Sebuah pertanyaan yang mungkin harus dijawab bukan hanya oleh penulis, penerbit, tetapi juga Anda, dan saya, sebagai pembaca. Sudahkah menyimak kisah-kisah dari timur?(Ode)**
.

Categories:Pendidikan,
Tags:,